pages

Sabtu, 30 Maret 2013

Mencari Jalan Pulang


Rasanya sudah begitu lama aku berjalan.
Cuaca teramat terik, matahari seolah tak pernah bergerak satu inci pun; seperti menikmati perannya untuk membakar kulitku. Sejauh mata memandang, yang kulihat hanya hamparan tanah tandus; di mana tak ada satu flora pun yang sanggup tumbuh.
Kerongkonganku begitu kering, nyaris robek karena haus yang sangat. Ingin rasanya menangis, bahkan menjerit; kurasa hanya aku satu-satunya makhluk yang terdampar di tanah ini. Tapi sepertinya dehidrasi akut membuat air mata tak kunjung mengalir dari mataku. Dan aku terlalu letih untuk sekedar berbicara. Perjalanan ini terlalu panjang.
Langkahku yang kian gontai akhirnya terhenti. Aku ambruk mencium bumi.

Jumat, 29 Maret 2013

Ujian Pertama untuk Jilbab Zahra


Waktu istirahat di kantin sekolah. Zahra menghampiri teman-teman genknya yang lagi kumpul-kumpul, ngobrol ngalor ngidul sambil ngisi perut.

“Beuh…., ada bu aji baru pulang dari Mekkah!” celetuk si Ita; ketua genk yang suka rada sinis kalo ngasih komentar.

“Bu aji apa nenek-nenek?!” timpal Devi gak kalah sinis, bahkan sadis.

Keenam temannya tertawa riuh tanpa dikomando lagi.

“Eh, tapi Zahra jadi keliatan anggun gimana…gitu loh…” Femmy yang paling jago matematika dan terkadang bisa jadi makhluk paling jutek, malah memuji. Dalam hatinya ia tulus mengagumi Zahra yang bisa tampil manis dengan jilbabnya.

“Iya, tau… Manis banget!” ini sih khasnya Kokom alias Komala, yang meskipun rada cuek dan tomboy, tapi lebih sering hadir dengan dukungan.

“He-eh! Cantik!” Norma yang imut dan berparas paling cantik turut mendukung Femmy dan Kokom.

“Hm…, cantik sich…., manis sich…. Tapi Zahla, kenapa keludungnya dipanjangin gini? Bagusan juga kalo diiket ke belakang. Bial keliatan gaul, gitu loch…” Tyas yang cadel memberi komentar sambil sedetail mungkin memperhatikan penampilan Zahra. Sambil kipas-kipas pula, udah kayak penata mode yang rada bences gimana…gitu!

“Yup, tul banget! Kayak pake taplak meja emak lu, tau gak sich?!”