Waktu istirahat di kantin sekolah. Zahra menghampiri teman-teman genknya yang lagi kumpul-kumpul, ngobrol ngalor ngidul sambil ngisi perut.
“Beuh…., ada bu aji baru pulang dari Mekkah!” celetuk si Ita; ketua
“Bu aji apa nenek-nenek?!” timpal Devi gak kalah sinis, bahkan sadis.
Keenam temannya tertawa riuh tanpa dikomando lagi.
“Eh, tapi Zahra jadi keliatan anggun gimana…gitu loh…” Femmy yang paling jago matematika dan terkadang bisa jadi makhluk paling jutek, malah memuji. Dalam hatinya ia tulus mengagumi Zahra yang bisa tampil manis dengan jilbabnya.
“Iya, tau… Manis banget!” ini sih khasnya Kokom alias Komala, yang meskipun rada cuek dan tomboy, tapi lebih sering hadir dengan dukungan.
“He-eh! Cantik!” Norma yang imut dan berparas paling cantik turut mendukung Femmy dan Kokom.
“Hm…, cantik sich…., manis sich…. Tapi Zahla, kenapa keludungnya dipanjangin gini? Bagusan juga kalo diiket ke belakang. Bial keliatan gaul, gitu loch…” Tyas yang cadel memberi komentar sambil sedetail mungkin memperhatikan penampilan Zahra. Sambil kipas-kipas pula, udah kayak penata mode yang rada bences gimana…gitu!
“Yup, tul banget! Kayak pake taplak meja emak lu, tau gak sich?!”
Apalagi temen-temen genknya itu. Walaupun mulut mereka kadang lebih pedes dari cabe rawit yang paling pedes! Zahra udah terbiasa. Gimanapun, mereke teman-teman yang mau menerima dia apa adanya. Bayangin deh, Zahra itu sosok pendiam yang mindernya minta ampun. Belum lagi lelet dan lemotnya yang gak bisa tertolong lagi. Suka asyik sama dunianya sendiri, bikin Zahra terlihat gak jauh beda sama anak autis! Tapi Ita and the gang dengan gampangnya menawarkan pertemanan yang akrab, gokil, dan menyenangkan kepadanya saat pertama kali mereka sekelas di kelas 1. So, bagi Zahra, mereka adalah teman-teman yang dengan murah hati menawarkan keceriaan masa remaja yang gak mungkin bisa dia ciptain sendiri di dunianya kala itu.
Zahra; seorang gadis SMU berparas manis sederhana dengan kacamata minus yang selalu bertengger di tulang hidungnya yang santun (maksudnya, hidungnya gak mancung tapi juga gak pesek!), adalah salah seorang yang memilih untuk melakukan sebuah tindakan nyata setelah seminggu mengikuti Pesantren Kilat yang diadakan sebuah organisasi Islam di lingkungan rumahnya pada Ramadhan kemarin; Zahra memilih untuk berjilbab. Keputusannya untuk berjilbab itu disadarinya betul sebagai sebuah pilihan untuk hidup dengan syariat Islam secara keseluruhan.
* * *
Bel pulang berbunyi. Setelah pelajaran ditutup, Zahra segera merapihkan buku-buku pelajarannya. Satu persatu teman-teman sekelasnya meninggalkan ruang kelas.
“Zahra, aku duluan, ya… Assalamu’alaikum, neng geulis….” Eva teman sebangkunya pamit sambil meledeknya. Zahra jadi tersenyum dan tertawa kecil, memperlihatkan gigi kelincinya yang agak kebesaran, tapi mampu bikin Bagas yang memperhatikannya sebelum keluar kelas jadi mendadak kena gejala asma!
“Eh, bareng ke depannya dong, Va! Aku juga mo cepet-cepet balik nih.” Jawab Zahra.
“Loh, kok tumben? Biasanya
Zahra nyengir kuda demi mendengar kata nongkrong yang sekarang jadi terdengar ganjil di telinganya.
“Nggak. Aku harus balik.
“Jeuh…, tau deh yang sekarang udah sibuk jadi aktivis pelajar Islam! Hehehe…” Eva tambah demen ngeledekin.
“Ih, biasa aja kali… Aku sih belum apa-apa. Aktivis…., keberatan, ah! Kalo pelajar Islam sih, tentunya!”
“Hm…, kayaknya, Ita and the gang harus siap nih kehilangan salah satu anggota genknya yang bakalan sibuk dengan berbagai agenda kegiatan organisasinya!” Eva yang juga aktif di organisasi PMR udah bisa memprediksi kesibukan temen sebangkunya itu. Mendengarnya Zahra cuma bisa nyengir.
* * *
Pagi hari di kelas 3 IPS 2, tengah berlangsung pelajaran Pendidikan Agama Islam. Pak Ramli adalah guru yang mengajarkannya. Dan di tengah-tengah pembahasannya, tiba-tiba beliau mengomentari Zahra dan jilbabnya!
“Alhamdulillah…, Bapak senang sekali karena akhirnya di sekolah ini ada yang dapat benar-benar mengenakan jilbab dengan baik.”
Pak Ramli sekilas menoleh dan tersenyum ke arah Zahra. Sontak, semua kepala pun turut menoleh ke arahnya. Perlu diketahui ya, pada saat itu, cuma Zahra yang bener-bener pake jilbab di sekolahnya.
Kembali ke Pak Ramli, beliau melanjutkan pembahasannya, tapi masih berhubungan sama jilbab rupanya. “Percayalah, anak-anakku…, jika kalian menutupi aurat kalian, maka Allah SWT akan menjaga kalian dari kejahatan yang mungkin timbul dari melihat aurat yang dibiarkan bebas terbuka. Coba deh kalau perempuan yang menutup auratnya dengan baik, kalau digodain sama cowok-cowok di jalan, paling mereka ngegodainnya sebatas bilang, ‘assalamu’alaikum…’ Hehehe….” Di akhir kalimatnya Pak Ramli malah tertawa sendiri dengan contoh yang beliau berikan. Mungkin keinget waktu mudanya dulu kali ye…, pas lagi ngegodain cewek yang ditaksir! Hehehe…
Anak-anak muridnya yang mendengarkan penuturannya itu pun ikutan tertawa. “Iya loh, coba deh, mana berani cowok-cowok ngegodain gadis-gadis berjilbab sampai pegang-pegang. Pasti mereka akan lebih menghargai gadis berjilbab itu. Karena gadis itu sudah bisa menghargai dirinya sendiri.” lanjut Pak Ramli menegaskan. Siapa sangka, kalau ternyata perkataan Pak Ramli barusan akan memicu seorang Bagas untuk menunjukkan keberaniannya!
* * *
Zahra sedang berjalan menuju kantin untuk jajan dan kumpul dengan teman-teman genknya. Dan untuk menuju kantin, jalan yang biasa ditempuh Zahra begitu juga teman-temannya yang lain adalah dengan melewati lapangan basket. Saat Zahra sedang berjalan sambil menunduk (inget
Zahra refleks mencoba menepis dan berontak. Dan saat wajahnya mendongak, ia melihat seraut wajah dengan senyum sinis di hadapannya, Zahra berseru kaget, “Bagas?!” untuk beberapa detik Zahra hanya bisa terdiam, shock. Saat kesadarannya kembali, Zahra berusaha berontak lagi dari tangan yang masih tak mau melepaskan pergelangan tangannya itu.
“Lepas, Gas! Apa-apaan sih?! Lepasin!” Celaka, Bagas malah makin ganas! Satu tangan Zahra yang tadinya bebas dan mencoba melakukan perlawanan, malah berhasil ditangkap dan dipegangnya kuat-kuat! Lalu Bagas dengan sadisnya berseru pada siswa-siswi lainnya yang tengah ramai lalu lalang di
Dan saat setetes air mata Zahra akhirnya menetes, dengan kasar Bagas melepaskan tangan Zahra. Zahra segera berlari ke kelasnya. Zahra sudah lupa kalau tadi ia ingin ke kantin. Ternyata, Bagas masih marah atas penolakan Zahra kala Bagas menawarinya hubungan yang lebih dari sekedar teman. Padahal Zahra telah dengan halus menjawabnya, “Kita temenan aja ya, Gas… Hm?” Zahra tersenyum meminta persetujuan Bagas kala itu. Bukannya Zahra gak tau kalau Bagas akhirnya mulai menunjukkan sikap tak bersahabat dengannya. Tapi Zahra harus bilang apa lagi, Zahra merasa hubungan seperti itu belum saatnya buat mereka. Zahra semakin terisak.
Bukankah peristiwa itu sudah terjadi berbulan-bulan yang lalu? Bahkan jauh sebelum aku berjilbab. Kenapa Bagas masih memendam marah? Banyak tanya berseliweran di benak Zahra, semakin terasa sesak hatinya.
* * *
Baru berselang beberapa hari dari peristiwa perlakuan kasar Bagas di lapangan basket yang ramai itu, siang ini Zahra harus berhadapan lagi dengan kericuhan yang lain. Andra Pranata, cowok cute salah satu penghuni kelas 3 IPS 1 yang akhir-akhir ini mulai meliriknya. Siang ini setelah jam pelajaran usai, tiba-tiba Andra menawarinya tumpangan. Cowok tajir anak pengacara kaya itu dengan yakinnya membukakan pintu Honda Civic warna hitamnya untuk Zahra. Teramat yakin gadis yang semakin manis di matanya setelah mengenakan jilbab itu takkan menolaknya.
Zahra yang masih bingung dengan ajakan yang tiba-tiba itu hanya bisa terdiam, mematung di tempatnya berdiri. Dan sejujurnya, tak ada sama sekali keinginan di hatinya untuk menerima tawaran itu. Tapi Zahra tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk menolaknya.
“Yuk, Za, kuantar.” pinta Andra untuk yang kedua kalinya, tak sabar menunggu jawaban dari Zahra yang masih enggan masuk ke dalam mobilnya.
“Ah, eh…, maaf, Ndra, saya gak bisa. Saya udah ada janji sama Ita dan yang lain.”
“Iya, aku tau. Mau ke rumahnya Tyas,
What?! Ngapain coba mereka pake ngajak Andra segala?! Mereka sendiri yang selalu bilang, kalo acara kumpul-kumpul gak boleh ajak temen lain di luar
“Hi, Zahra…! Udah yuk, masuk aja…! Oi, Ndra, kita ikut numpang ya….! Hehehe…” tiba-tiba Ita dan Tyas udah nongol begitu aja. Bahkan tanpa dosa menarik tangan Zahra, memaksanya untuk ikut masuk ke dalam mobil. Dan dengan sengaja pula, membiarkan Zahra duduk di jok depan, di samping Andra yang hatinya kian berbunga-bunga. Di dalam mobil. Tyas bersorak kecil dan centil, “Music…!”
Musik pun segera bergema di dalamnya. Andra mulai tancap gas. Dan hati Zahra kian resah merasakan ada hal yang tidak beres, sedang dan akan berlangsung. Kalau gak ke mall, kegiatan main Ita and the gang ya kunjungan silaturahim ke salah satu rumah anggota
Hm…., mereka emang selalu bilang kegiatan main mereka itu sebagai kunjungan silaturahim. Padahal ya, esensi main sama silaturahim itu beda jauh loh… Sumpah, jauh banget!
Sebenarnya Zahra terpaksa ikut acara kumpul-kumpul siang ini. Hanya demi menjaga pertemanan mereka. Dia udah sering absent dari acara-acara gathering after school hours mereka. Teman-teman genknya pun mulai ‘bernyanyi dengan lantunan syair’ bernuansa sarkasme mereka seperti biasa. So, demi menghindari rentetan suara mereka yang gak merdu itulah akhirnya Zahra terpaksa ikut acara kali ini.
Awalnya sih kegiatan main mereka berjalan seperti biasanya. Makan-makan, bercanda, ngobrol ngalor ngidul, bla-bla-bla… Tapi tiba-tiba aja satu persatu teman-teman Zahra ngilang. Zahra yang masih suka tetep asik sendiri dengan buku bacaannya meskipun di keramaian acara mereka, jadi bingung pas ngeh kalau tinggal dia sendiri yang ada di ruang tamu besar rumah Tyas.
Oh salah, dia gak cuma tinggal sendiri. Ada Andra yang dari tadi bersabar menunggu hingga kesempatannya untuk PDKT lebih dalam itu tiba!
“Lagi baca apa sih, Za? Kayaknya asik banget deh.” Andra tiba-tiba mendekat, dengan santainya duduk di atas sofa tepat di samping Zahra, memecah diam di antara mereka.
“Eh? Oh, iya, aku lagi baca…, hm, apa ya ini? Novel bukan, kumpulan cerpen juga bukan. Pokoknya buku ini berisi catatan perenungannya si penulis gitu deh,” jawab Zahra agak kaget tapi tetap mencoba menjelaskan.
“Ber-ba-gi… bening cinta?” eja Andra yang agak kesulitan melihat judul buku yang sedang Zahra pegang. “Wah, tentang cinta-cintaan gitu ya, Za? Ehm, kayaknya kamu tu tipe cewek romantis ya, Za? Bacaan kamu aja yang berbau cinta gitu,” tanya Andra basa-basi bercampur bumbu sok tahu.
“Heh? He…, gak juga. Saya suka aja sama penulis buku ini.
“O gitu…,” Andra sok ngerti, lalu… “Coba dong aku mo liat bukunya.” Andra serta merta mengambil buku di tangan Zahra, dan sepertinya dengan sengaja menyentuh jemari Zahra. Refleks, gadis itu menarik tangannya.
“Plukk!” buku yang tidak begitu tebal itu pun jatuh ke lantai. Itulah hal gak beres yang udah Zahra rasain dari tadi. Maka tanpa pikir panjang lagi Zahra sigap berdiri, memungut bukunya, menyambar tasnya, dan berbegas untuk keluar. Ia mau pulang.
Andra yang panik melihat sikap Zahra, tiba-tiba menyambar lengan Zahra. Mencegahnya untuk pergi. “Za, kamu kenapa? Aku salah? Aku minta maaf, Za, Tapi jangan pergi!
“Zahra, aku….”
“Maaf, Ndra. Assalamu’alaikum.”
Andra hanya dapat menatap lesu punggung gadis yang mulai mengusik relung hatinya itu kian jauh menghilang.
* * *
Tiga minggu sudah berlalu dari insiden PDKT Andra yang gagal total itu. Kini Zahra harus berhadapan langsung dengan teman-teman genknya. Dia mendapati keenam temannya sudah mejeng di depan kelasnya saat ia keluar kelas hendak pulang. Persidangan untuk Zahra pun dimulai.
Tujuh sekawan itu lama terdiam dalam hening. Hening itu baru pecah saat Kokom mulai ambil suara, “Za, tiga minggu ini ke mana aja sih? Kok sama sekali gak ada kabar? Kayaknya, lu coba ngehindar dari kita-kita ya?”
Zahra merasa cukup terpojok dengan pertanyaan terakhir Kokom yang lebih terasa seperti tuduhan. Zahra kikuk membenarkan kacamatanya. Lama ditunggu, suara Zahra nggak juga keluar.
“Lu tau gak sih, si Andra tu naksir berat sama lu! Tapi dia gak ngerti kudu gimana untuk ngedeketin lu. Karena lu itu lebih mirip alien daripada manusia!” Devi gak bisa nahan untuk ngasih komentar yang pedes kayak biasanya. Zahra tetap diam gak bereaksi, tertunduk membisu menatapi sepatunya. Sebenarnya dia punya jawaban, tapi entah apakah teman-temannya bisa menerimanya atau tidak. Zahra juga tidak merasa yakin kalau dia bisa meyakinkan teman-teman genknya itu. Jadi dia masih memilih diam, walaupun hatinya bergemuruh.
“Lu gak suka sama Andra, Za?” Ita mencoba bertanya.
“Iya, kalo emang lu gak suka, ya bilang aja ke kita. Kita juga pasti ngerti kok. Masa orang gak suka mo kita paksa juga?! Ya nggaklah, Zahra…” Norma mencoba meyakinkan Zahra kalau yang mereka lakukan sama sekali bukan paksaan untuk Zahra.
Tapi kata-katanya itu malah membuat Zahra mengambil keputusan untuk bicara, “Bukan. Ini bukan masalah suka atau nggak. Ini lebih pada prinsip yang udah aku pilih.”
Hening…. Ketidakmengetian makin tercipta di benak keenam temannya yang kemudian saling melempar tatapan bingung.
“Maksudnya???” Tyas, Ita, dan Devi akhirnya kompak melemparkan tanya.
Zahra mengambil nafas sejenak, “Saat aku memilih berjilbab, saat itu pula aku sudah memilih untuk hidup sebagai seorang muslim yang utuh…”
“Apa maksud lu? Lu pikir gue dan yang lain apa? Bukan muslim?!” Femmy memotong tiba-tiba sebelum Zahra selesai dengan penjelasannya.
“Bukan gitu, Fem… Aku gak maksud kayak gitu. Aku cuma mo jelasin ke kalian, kalau berjilbabnya aku itu berarti aku udah memutuskan kalau Islam adalah satu-satunya prinsip hidupku. Bahwa aku sudi syariat Islam mengatur keseluruhan hidupku. Salah satu konsekuensinya, sesuai dengan pemahaman yang aku dapat dari setiap kajian di organisasi keislaman yang aku ikutin akhir-akhir ini, aku gak pacaran sebelum aku menikah. Karena…”
“What?!!! Mana ada yang kayak gitu?! Maksudnya, lu gak boleh pacaran sama guru ngaji lu??! Itu sama aja dengan melanggar hak asasi manusia!!!” Komala sudah tak sanggup untuk tidak menyuarakan kebingunannya pada kata-kata Zahra yang bercampur dengan ketidaksetujuan yang teramat jelas.
Zahra bengong. Speechless mendengar penolakan Komala dengan redaksi kata-katanya yang ajaib menurut Zahra. “Melanggar hak asasi manusia??!!” Zahra membatin tak percaya, sama tak percayanya dengan Kokom atas penjelasan Zahra tadi, seandainya ia tahu.
Hening merambat. Disusul perasaan asing yang mulai tercipta di antara mereka. Kali ini, Zahra memberanikan diri kembali untuk bersuara, untuk penjelasan akhirnya, “Karena gak ada pacaran dalam Islam. Karena hubungan lelaki dan perempuan yang bukan muhrim, diatur sedemikian rupa dalam Islam, demi menjaga kesucian. Karena Islam agama yang menjunjung tinggi kesucian. Karena Islam itu sendiri suci.”
Zahra mulai kehilangan kata-kata. “Dalam setiap hubungan, Islam punya syariatnya. Karena aku udah memilih Islam sebagai jalan hidupku, maka aku harus sudi seluruh hidupku diatur oleh syariat Islam. Syariat itu bukan diciptain sama guruku, ataupun organisasi Islam yang aku ikutin. Sama sekali bukan. Itu cuma pintu masuk. Salah satu cara yang membuat aku bertemu dengan hidayah juga pemahaman-pemahaman yang lebih baik dan utuh tentang Islam, tentang hidup dalam Islam. Syariat itu berasal dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Pedoman yang aku yakini, yang coba aku pahami, dan aku coba ikuti. Cuma itu.”
Entah karena apa, tak ada satupun yang merasa perlu untuk menyela kalimat demi kalimat yang Zahra coba utarakan. Memang cuma itu penjelasan akhir yang bisa Zahra berikan. Ia tak punya jurus pamungkas ajaib yang mampu membuat teman-teman tersayangnya itu dapat benar-benar mengerti. Maka Zahrah pasrah saat satu persatu langkah kaki orang-orang yang tadi mengelilinginya itu perlahan tapi pasti pergi menjauh. Zahra mencoba tetap tegar menopang tubuhnya yang mulai bergetar, isak tangis yang dibiarkannya lepas. Ia tak bisa membohongi hatinya yang teramat sedih dan kehilangan. Tapi gadis berjilbab putih itu tetap yakin atas keputusan hijrahnya.
Ia yakin, kesedihan ini akan lewat seiring bergulirnya waktu. Ia sadar, inilah konsekuensi atas pilihan besarnya yang nampak seperti sekedar tindakan kecil: berjilbab. Sebuah tindakan kecil yang dilandasi keputusan besar itu, sudah melewati ujiannya. Adapun ujian lain yang jauh lebih besar, masih panjang membentang, menunggu untuk dihadapi.
Ita and the gang yang juga merasa kehilangan, menyimpan kesedihan itu di hati masing-masing. Zahra yang sejak dulu aneh, sudah benar-benar menjelma jadi makhluk asing yang tak lagi mampu mereka pahami. Bagi mereka, Zahra sudah sempurna jadi alien.
(Keterangan: Sudah dimuat di dalam buku kumcer antologi bersama 10 penulis perempuan lainnya; KOLASE – Pernik Kehidupan, 2010)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar