pages

Sabtu, 30 Maret 2013

Mencari Jalan Pulang


Rasanya sudah begitu lama aku berjalan.
Cuaca teramat terik, matahari seolah tak pernah bergerak satu inci pun; seperti menikmati perannya untuk membakar kulitku. Sejauh mata memandang, yang kulihat hanya hamparan tanah tandus; di mana tak ada satu flora pun yang sanggup tumbuh.
Kerongkonganku begitu kering, nyaris robek karena haus yang sangat. Ingin rasanya menangis, bahkan menjerit; kurasa hanya aku satu-satunya makhluk yang terdampar di tanah ini. Tapi sepertinya dehidrasi akut membuat air mata tak kunjung mengalir dari mataku. Dan aku terlalu letih untuk sekedar berbicara. Perjalanan ini terlalu panjang.
Langkahku yang kian gontai akhirnya terhenti. Aku ambruk mencium bumi.
***
5 Tahun yang Lalu…
Waktu menunjukkan pukul 13.30 WIB. Hujan deras baru saja turun. Untungnya ia sudah sampai lebih dulu di rumahnya. Kalau masih dalam perjalanan, sudah pastilah ia basah kuyup saat mengemudikan motornya, dan ia sangat benci harus berteduh di jalan.
Seperti biasanya, rumahnya tampak sepi. Papanya tentu saja sedang bekerja di kantor. Kakak lelakinya juga sedang kuliah dan pastinya sibuk dengan berbagai kegiatan organisasi kampus. Tapi…
“Eh, ke mana si Mama ya? Biasanya lagi asik nonton TV. Ah, paling juga lagi arisan atau pengajian,” pikir Vega sambil berjalan menuju dapur.
Benar saja, secarik kertas berisi tulisan tangan Mamanya yang ditempel di depan pintu kulkas memberitahukan kalau Mamanya sedang arisan di rumah Tante Mirna, teman Mamanyanya sejak SMA dulu, dan baru balik sore nanti. Jadi Vega dipesankan untuk ceplok telor atau goreng nugget sebagai menu makan siang. Mamanya juga menulis, “Ve, tolong kamu masakin juga lauk untuk Ivan. Maaf ya, Mama tadi gak sempet masak lauk, baru sempet masak nasi aja. Ivan kayaknya mau nginep tuh. Biasalah…”
“Ivan? Ribut lagi dia sama Om Hendro? Heran, bapak sama anak kerjanya ribut…mulu! Hehehe…, lucu! Eh, tapi di mana tu anak?” sehabis meneguk segelas air dingin Vega bergegas ke ruang tidur kosong yang biasanya dihuni saudara atau tamu yang datang menginap. Sampai di depan pintu, Vega terpikir untuk mengagetkan sepupunya yang berusia 2 tahun di atasnya itu, ia pun dengan sangat perlahan membuka pintu kamar yang tertutup itu. Baru saja ia akan mengagetkan Ivan dengan berteriak dan menunjukkan wajah jelek, tapi pemandangan yang disaksikannyalah yang malah membuatnya kaget.
Mungkin perasaan heran dan bingung lebih tepat mewakili perasaan Vega. Ia melihat Ivan tengah duduk selonjor di atas lantai sambil bersandar ke sisi ranjang, tangan kanannya terlihat sedang menyuntikkan jarum suntik ke tangan kirinya. Kepala Ivan mendongak ke atas, matanya terpejam seolah sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya. Dari perasaan heran dan bingung, beralih menjadi penasaran, Vega melangkah perlahan mendekati Ivan.
Vega meneliti apa yang tengah dilakukan sepupunya itu. Tapi karena ia tetap tak paham apa yang sebenarnya sedang dilakukan Ivan, ia pun menyentuh lengan Ivan. Yang disentuh sontak menoleh agak kaget. Vega nyengir kuda dan segera bertanya, “Heh, lagi ngapain sih lu, Van? Kayaknya asik gitu dah.”
“Hah, ngagetin gue aja lu, Ve! Gue pikir nyokap lu! Iye nih, lagi asik gila gue… Hehehe…,” Ivan menjawab seperti orang yang sedang ngantuk berat lalu mengigau, matanya pun tampak sayu.
“Ih, kayak orang lagi mabok lu, Van! Jadi ngeri gue! Sebenernya lu pake apa sih, Van? Emangnya gak sakit apa nyuntik tangan lu pake jarum suntik kayak gitu?”
“Hehehe…, tenang, Ve… Kalo lu lagi dalam situasi kayak gue, sakaw… hehehe…., nggak ada yang namanya kata sakit, Ve…. Nggak ada tuh yang namanye kata pusing, sedih… Lu cuma bakal ngerasa nge-fly…, perasaan bahagia, Ve…  hahaha….,” Ivan makin kacau berceloteh.
Bukannya ngeri seperti yang dikatakannya tadi, Vega malah merasa tertarik dengan apa yang dilakukan Ivan. Yang bener nih, bisa nggak ngerasa sakit, pusing, apalagi sedih? Berarti bisa ngilangin rasa BT, bosen, and… kesepian yang selama ini bersarang di hati gue, dong? Wah, asik banget nih! Begitu pikir Vega.
“Kalo gitu, Van, coba bagi gue, dong! Gue kan juga mo ngerasain perasaan nge-fly…yang lu bilang itu!”
Sekilas Ivan menoleh pada Vega, lalu nyengir dan tertawa, “Hahaha… Vega…, lu tuh masih kecil… Lu belum boleh pake ni barang, cuy! Tunggu lu gede dulu, Ok?! Hehehe….”
“Halah, kayak lu udah gede aje! Lu kan juga baru kelas 2 SMA, masih suka berantem lagi sama bokap lu sendiri! Heh, bentar lagi gue juga bakal jadi anak SMA, tahu!” Vega memberengut dan mengomel kesal.
“Ya udah…, oke, oke…, gue kasih! Tapi jangan berisik, ye?! Kalo sampe ketauan keluarga kita, bisa mampus kita, Ve… hehehe…. Nih, pake barang gue!” Akhirnya Ivan menyodorkan jarum suntik berisi zat kimiawi memabukkan itu kepada Vega.
“Mampus? Emangnya kenapa, bro? Wah, jangan-jangan nih barang berbahaya ye?!” Meskipun mempertanyakan hal itu, toh Vega tetap menerima jarum suntik itu dengan senang hati. Yang ditanya hanya tertawa sumbang, lalu membantu menyuntikan jarum suntik itu ke tangan sepupunya. Mengalirlah zat kimiawi yang tidak hanya mampu membawa penggunanya ke langit khayal yang tak berbatas hingga mabuk, tapi juga mampu menjerat si pengguna dalam candu yang menyakitkan. Satu hal penting yang tidak dipahami Vega saat itu, dan belum disadari betul oleh Ivan kala itu.
Segera, Vega ikut terbang… Entah ke lapisan langit yang mana. Tapi mampu membawanya pergi jauh dari rasa bosan dan kesepian yang biasanya rajin menemani hari-harinya. Vega sangat bahagia, teramat bahagia. Ia merasa menemukan obat penawar dari sakit yang diderita jiwanya selama ini; rasa sepi yang menindih dadanya hingga sesak, rasa jemu yang tak pernah dihiraukan keluarganya, rasa hampa yang membuatnya menangis tanpa sebab yang jelas, rasa diabaikan, perasaan tak cukup, perasaan-perasaan yang membuatnya muak pada hari-hari kehidupannya.
***
Hari kelulusan yang terlalu sepi untuk Vega. Ternyata tahun-tahun yang berlalu tidak menggeser rasa sepi dalam hidup seorang Vega Kirana Dewi. Papanya sedang ada proyek di luar kota, Mamanya masih seperti biasa; ada, tapi tidak cukup berperan dalam keberadaannya. Sedangkan kakaknya, Andre, yang sudah lulus kuliah dan memilih menetap di Bandung; bahkan tidak sadar dengan kelulusan adik semata wayangnya itu.
Saat lulus dari SMP tiga tahun yang lalu, Vega merayakannya dengan pesta ganja dan miras di sebuah villa di Bandung bersama Ivan dan beberapa temannya. Sekarang pun rasanya ia tergoda untuk mengulang pesta yang sama, meskipun tanpa Ivan yang kini tengah terpaksa menjalani terapi di sebuah panti rehabilitasi. Mengingat itu membuat Vega mendengus kesal. Karena sebelumnya ia selalu mengandalkan Ivan untuk mendapatkan obat terlarang itu. Gambaran pesta kimia itu jadi buyar karenanya.
Suara pidato dari para pejabat sekolah kini sudah berganti jadi hingar-bingar musik yang menghentak jantung. Panggung acara kelulusan pastinya sedang berlangsung meriah di alun-alun sekolah. Tapi Vega malah menyembunyikan dirinya di pojok kantin. Ia tak merasa harus turut berbahagia dengan kelulusannya. Bagi Vega, masa depan bukan hal yang menyenangkan untuk segera disongsong. Dan sejak awal masuk ke SMU ini, ia tak punya satu pun teman dekat yang bisa diajak berbagi suka maupun duka; jadi perayaan kelulusan ini jelas tidak berpengaruh apapun bagi dirinya.
“Ve? Kok sendirian aja di sini?” sebuah suara lembut tiba-tiba menyapanya.
Merasa kesendiriannya terusik, Vega hanya melemparkan senyumnya yang masam. Tapi sosok gadis berjilbab di hadapannya itu malah ambil posisi duduk santai di depannya. Senyum ramah tidak hanya tersungging di bibirnya tapi juga di matanya yang selalu tampak berbinar-binar.
“Tadi pagi belum sarapan, jadi ngabur ke sini deh. Udah nggak tahan…laper!” jelas gadis ramah di hadapannya itu dengan suara riang yang sepertinya tidak dibuat-buat, tanpa ditanya.
Vega tidak suka pembicaraan basa-basi. Ia baru saja akan memutuskan pergi saat Aisyah—gadis berjilbab di hadapannya itu—kembali melontarkan pertanyaan, “By the way, setelah ini mau melanjutkan ke mana?”
Sebenarnya Vega paling tidak suka orang lain mencampuri urusannya dan ia tak pernah merencanakan masa depannya akan seperti apa. Tapi di lubuk hatinya yang terdalam, ia ingin ada orang yang benar-benar peduli akan hidupnya. Jadi mungkin karena itulah akhirnya ia tetap duduk terpaku di bangkunya.
Ada jeda waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Vega menjawab, “Mm…, kuliah, ya, kan? Mau apa lagi?” Vega seperti bingung dengan jawabannya sendiri. Ia pikir itulah yang pastinya diinginkan kedua orangtuanya.
“Bagus. Ke universitas mana kira-kira?” tanya Aisyah antusias.
“Hm…, a… Nggak tau, gue belum mutusin mau kuliah di mana atau ambil apa,” jawab Vega dengan sangat ragu pada awalnya.
Aisyah tersenyum mendengar jawaban Vega dan ketegangan yang tampak saat mengatakannya. Kemudian kembali tanpa ditanya, Aisyah menjelaskan rencananya, “Aku juga masih bingung antara Psikologi dan Sastra Arab. Bagiku, dua-duanya sama-sama penting dan aku minati.” Aisyah tersenyum sendiri sebelum melanjutkan, “Aku udah nabung dari SMP untuk biaya masuk kuliah nanti. Tapi untuk biaya tiap semesternya, aku harus kerja keras. Jadi aku harus mulai cari kerja setelah ijazah turun. Semoga Allah memudahkan. Amin!” Aisyah kembali tersenyum.
Akhirnya ketoprak pesanan Aisyah diantar ke mejanya, dan setelah mengucapkan terima kasih disertai senyum yang lebar pada Mas Paiman—si tukang ketoprak yang mengantarkan sepiring ketoprak dan segelas air putih—Aisyah segera mengaduk-aduk ketoprak di atas piringnya sambil menawari Vega yang menolaknya dengan gelengan kepala.
Diam-diam Vega mengamati sosok di hadapannya itu. Wajah Aisyah hampir selalu diliputi keceriaan dan senyum yang ramah, seolah-olah semua orang yang ia temui adalah orang baik dan penting; keanggunan seperti tak pernah lepas dari gerak-geriknya; dan yang paling membuat Vega sulit memusuhinya meskipun ia mau, adalah keteduhan yang selalu terpancar dari diri Aisyah. Vega tahu, Aisyah begitu intim dengan Tuhan. Vega iri, sangat iri. Karena, bahkan mengenalNya pun Vega tidak. Ia merasa Tuhan memusuhinya selama ini.
Apa, sih, yang lebih dari diri lu? Cantik? Huh, gue bahkan lebih cantik dari lu. Pinter? Setau gue, lu nggak pernah dapet rangking lima besar. Kaya? Seperti pengakuan lu sendiri, untuk biaya masuk kuliah aja elu harus nabung dari SMP?! Gila, niat amat lu kuliah! Trus, kenapa gue harus iri sama lu? Shit! Gue cuma mau nikmatin hidup seindah, sedamai, seteduh, sebahagia yang elu rasain selama ini. Huh, nggak kayak hidup yang selama ini gue rasain; tai kucing!
Merasa jengkel, Vega bangkit berdiri dan dengan langkah panjang-panjang pergi menjauh. Meninggalkan Aisyah yang menatap kepergiannya yang tanpa sepatah kata pun dengan wajah bingung.
***
Mungkin aku sempat pingsan. Saat bangun aku sudah berada di atas hamparan salju. Sebentar saja dingin yang sangat sudah menjalari tubuhku. Sama seperti sebelumnya, tak tampak ada kehidupan di sini. lagi-lagi mendapati diriku terdampar sendirian membuat hatiku dicekam rasa ngeri. Di udara sedingin ini, aku tak terlindungi oleh selembar pun baju hangat. Kuamati diriku sendiri; aku hanya memakai sebuah baju tipis, baju yang biasanya digunakan oleh pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Gigiku mulai bergemeletukan sementara tubuhku bergetar.
Sekarang aku kehabisan nafas. Darah… noda darah mengotori putihnya salju. Darah yang ternyata menetes-netes dari hidungku. Darah… sekarang aku muntah darah.
Tubuhku menggigil hebat. Dan sudah sejak tadi aku jalan merangkak. Seharusnya aku sudah mati sejak tadi. Kupikir bertahan hidup adalah hal yang paling sulit, ternyata aku salah, kematian bagi seorang pendosa jauh lebih sulit.
***
2 tahun seletah masa kelulusan SMU…
Di sebuah kamar hotel, seorang gadis tengah memuaskan hasrat seorang lelaki berusia akhir 40 tahun dengan tubuh moleknya. Antara sadar dan tidak, ia hanya bisa pasrah tubuhnya digerayangi si pria hidung belang. Karena cuma dengan begini ia bisa mendapat uang berlebih untuk memenuhi ketergantungannya akan obat-obat terlarang. Uang saku yang cukup besar untuk ukuran anak kuliahan di kota metropolitan yang diberikan tiap bulan oleh ayahnya lewat rekening bank tidak akan pernah cukup. Apalagi mamanya suka mengecek isi rekeningnya, lebih rajin daripada mengecek kondisi batin anaknya sendiri.
Ia selalu mengkonsumsi ‘obat’ sebelum memulai aksinya sebagai alat pemuas. Agar ia tidak akan terlalu sadar apa yang ia lakukan dan alami saat pergumulan itu terjadi. Ia muak setiap kali harus melakukannya. Tapi seolah tak ada pilihan. Toh, sudah terlanjur basah, ya sekalian mandi saja; begitu selalu pikirnya.
Dua tubuh yang tak lagi berbusana itu akhirnya selesai dengan percumbuan mereka. Keduanya sudah sama-sama lelah dalam peluh. Mereka tertidur setelah melakukannya.
Seraut wajah yang terbingkai jilbab tiba-tiba muncul. Wajah seorang gadis yang tak asing. Mata si gadis berjilbab yang biasanya berbinar seolah tersenyum itu terlihat berkaca-kaca, ada air mata yang menggenang di sana. Sendu gadis itu berbicara, “Ve…, hidayah bukan sesuatu yang serta merta turun begitu saja. Hidayah itu sesuatu yang harus kita usahakan. Lekaslah kembali, Ve… selalu ada jalan untuk pulang. Cari jalan itu, Vega! Lekas! Sebelum semuanya terlambat. Sebelum…” Mata gadis itu tiba-tiba membulat, menatapnya nanar sebelum akhirnya berteriak, “Vega….!!!”
“Aisyah….!” Vega menjeritkan sebuah nama saat ia terbangun dari tidurnya yang diselubungi mimpi. Keringat membanjiri kening dan lehernya. Jantungnya berdegub teramat kencang. Nafasnya turun naik tak beraturan. Matanya mengedarkan pandang ke sekeliling ruangan; masih kamar hotel yang sama. Kepalanya menoleh pada lelaki paruh baya yang tengah mendengkur, tertidur pulas. Vega memejamkan mata, jijik pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba HPnya yang tergeletak di atas meja di samping ranjang berbunyi. Perlahan Vega mengambilnya; sebuah SMS masuk. Segera Vega membacanya; Ve, km kmn aja, sih?! Knp HP km ga d’angkat2?! Cpt pulang! Ivan mninggal. Sms barusan dari Mamanya. Layar HPnya menunjukkan ada sebelas miscall.
Seperti ada yang menghunjam jantungnya. Beberapa detik ia hanya mampu terdiam. Setelah sadar ia langsung menyambar bajunya yang berhamburan di lantai. Tak lama ia sudah ada di luar hotel. Segera ia naiki taksi yang lewat di hadapannya.
Meninggal? Ivan meninggal? Mimpi tadi, apa maksud dari mimpi gue tadi?! Sial, kenapa gue jadi takut begini! Batin Vega terus menceracau selama perjalanan di dalam taksi.
Baru sejam yang lalu hujan yang deras akhirnya mereda. Suhu udara pada jam sebelas malam yang baru selesai diguyur hujan pastinya mengundang untuk berselimut di atas ranjang empuk yang hangat. Sopir taksi di jok kemudi semakin sering menguap. Dan pada saat matanya terpejam sejenak untuk mengusir air yang menggenang di matanya karena terlalu sering menguap, beberapa meter di depan dari sebuah belokan muncul sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Saat si supir kembali membuka matanya, truk besar itu sudah terlalu dekat. Si supir taksi yang teramat kaget, seratus persen tak lagi mengantuk, segera membanting setir. Tapi terlambat. Si supir berteriak. Gadis di jok penumpang tercekat, terlalu kaget untuk menjerit.
***
Entah sudah yang keberapa kali aku tersungkur mencium bumi. Ingin rasanya melolong untuk meminta tolong pada siapapun yang mungkin mendengar. Tapi sepertinya itu sia-sia, aku terdampar sendirian. Kini aku hanya mampu merangkak. Telapak kakiku yang telanjang dan telapak tanganku sudah kebas. Aku merintih sebagai bentuk tangis, karena air mata yang biasanya menandakan seseorang menangis, sepertinya tak tersisa setetes pun di kelenjar mataku.
Aku ingin pulang. Hanya ingin pulang. Sejak kemarin yang sepertinya sudah berlalu begitu lamanya, aku terus mencari jalan pulang.
Tapi bukan untuk pulang ke rumahku yang pengap oleh hampa; hanya ada Mama yang meskipun bukan wanita karier, tapi selalu sibuk dengan dirinya sendiri; Papa yang hanya pulang jika malam sudah terlalu larut untuk masih terjaga, dan sudah pergi kerja lagi bahkan saat aku belum selesai mengenakan seragam; dan kak Andre yang sepertinya terlalu sibuk hanya untuk pulang seminggu sekali, jika sedang bersama pun kami terlalu asing untuk saling menanyakan kabar. Aku hanya pemanis rumah. Mereka hanya perlu tahu aku pergi ke sekolah dan pulang sebelum jam 9 malam tanpa membuat masalah yang bisa mereka dengar.
Aku ingin pulang. Aku harus mencari jalan pulang. Pulang ke suatu tempat; Ia yang sudah begitu lama kulupakan. Ia yang tak begitu kukenal, tapi tak bisa kubohongi, seringkali aku merinduNya. Saat aku melihat sosok Aisyah—teman sekolahku di SMU dulu—yang anggun dengan pakaian panjangnya; saat aku merasakan keteduhan saat memandang wajahnya yang terbingkai jilbab; saat aku mencuri-curi dengar tatkala ia melantunkan ayat suci Al Qur’an setiap kali pelajaran kosong. Tapi aku terlalu iri dan membencinya untuk bertanya tentang Ia yang sepertinya lebih ia kenal. Padahal jika aku sudi meruntuhkan sedikit saja keangkuhanku, mungkin damai yang dirasakan Aisyah bisa sedikit merasuk ke jiwaku yang terlalu pekat oleh dosa.
Hah…, tidak, semuanya sudah terlambat. Aku sudah terlalu jauh tersesat. Aku tak perlu berusaha keras lagi untuk menemukan jalan pulang itu. Perjalanan aneh yang tanpa ujung ini sepertinya akan menuntunku pada ajal dan… neraka.
Tapi sebelum aku mati, sungguh, aku sungguh ingin mencicipi damai itu. “Tuhan…,” dalam hati aku menghiba dengan posisi sujud, “Allah…, beri aku semenit saja… sejengkal surga yang bisa kureguk. Tuhan… Allah… aku mohon ampun… selama ini aku terlalu buta untuk bisa melihat keagunganMu. Aku terlalu angkuh untuk menyapamu. Tapi kini aku sudah terlalu hina untuk mendekatiMu.” Aku terisak seperti bayi yang kehausan tapi lelah menangis.
Nafas…aku begitu sulit untuk bernafas. Dadaku seperti terbakar. Aku pasrah dalam sujudku yang tanpa daya. Sekujur tubuhku telah membeku. Dengan bibirku yang kelu dan gigi yang terus bergemeletuk, tak henti aku menyebut sebuah nama yang membuat hatiku terasa diremas-remas setiap kali mengucapkannya. “Allah…, Allah…, Allah…, Allah…, Allah…..”
Entah sudah berapa ratus kali aku menyebut nama agung yang membuat aku kian kerdil tatkala mengucapkannya saat tiba-tiba rasa hangat perlahan menjalari tubuhku. Melumerkan kebekuan yang menikam keseluruhan diriku. Tapi aku gemetar ketika telingaku menangkap suara, satu-satunya suara yang berkata-kata padaku sepanjang perjalanan aneh dan menyakitkan ini. Dan aku terlalu lemah untuk menoleh pada asal suara itu. Keningku masih menempel di atas hamparan salju.
“Bangunlah, perjalanan panjang yang teramat sulit ini sudah kau tempuh. Semoga dapat mengampuni dosa-dosamu selama di dunia. Bangunlah sejenak dari tidur panjangmu, minta maaflah pada kedua orang tuamu. Lalu sholatlah. Ruhmu akan segera meninggalkan jasadmu. Waktunya istirahat yang panjang, sambil menunggu hari berbangkit di mana pengadilan Maha Adil akan dilaksanakan. Bangunlah, lalu ambil tiketmu untuk pulang. Semoga setelah ini, Allah akan mempermudah segalanya. Amin!”
***
Di sebuah ruang ICU, seorang gadis dengan wajah pucat tengah berbaring di atas ranjang serba putih. Di tubuhnya terpasang berbagai macam selang. Beberapa selang terhubung pada sebuah layar monitor yang menunjukkan pergerakan garis-garis yang naik turun secara sangat perlahan. Di sisi kanan dan kiri ranjang berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan wajah sedih yang tampak letih. Sudah hampir sebulan anak gadis mereka yang kehilangan banyak darah saat kecelakaan tragis yang menimpanya itu koma.
Di ujung ranjang seorang pria muda terlihat khusyuk dengan tilawah Qur’annya. Salah satu tangannya menggengang salah satu telapak gadis yang terbaring koma itu. Hatinya diiris kenangan-kenangan kosong bersama sang gadis. Betapa tak pantasnya aku menyandang status kakak baginya. Begitu selalu kalimat yang bergema di benaknya, melukai hatinya.
Tiba-tiba, seperti sebuah keajaiban, dengan sangat perlahan, si gadis yang pucat nyaris seperti mayat itu membuka matanya. Suara pelan dan nyaris bergetar keluar dari bibirnya, “Ma…, Pa…, kak…An..dre….h.. Ve..ga… min..ta… ma…af…” Ia tampak sangat berjuang untuk mengatakannya. “To…long… ban…tu… Ve…ga… hun..tuk… sho…lat….”
Suami istri dan anak lelaki mereka terlalu bahagia untuk bisa berkata-kata. Seperti diburu sesuatu, mereka segera bergerak untuk membantu si gadis memenuhi keinginannya. Tak lama mereka sudah pada posisinya masing-masing, berdiri di atas sajadah, kecuali si gadis yang tetap dalam posisi berbaring di atas ranjang, hendak melaksanakan sholat Subuh berjamaah; sesuatu yang dulu, dulu sekali, pernah mereka lakukan.
Hingga di rakaat kedua sholat mereka, pada saat tahiyat akhir, bacaan sholat si gadis terhenti hanya sampai kalimat asyhadualla ilahaillallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh…. Si gadis kembali terlelap dalam tidur yang lebih panjang. Berbalut mukena putih, gadis itu pergi meninggalkan senyum manis yang terlukis di keseluruhan wajahnya.

(Keterangan: sudah dimuat dalam buku kumcer antologi bersama 24 penulis lainnya; KOLASE 2 – Dari Balik Jendela, 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar