Rasanya
sudah begitu lama aku berjalan.
Cuaca
teramat terik, matahari seolah tak pernah bergerak satu inci pun; seperti
menikmati perannya untuk membakar kulitku. Sejauh mata memandang, yang kulihat
hanya hamparan tanah tandus; di mana tak ada satu flora pun yang sanggup
tumbuh.
Kerongkonganku
begitu kering, nyaris robek karena haus yang sangat. Ingin rasanya menangis,
bahkan menjerit; kurasa hanya aku satu-satunya makhluk yang terdampar di tanah
ini. Tapi sepertinya dehidrasi akut membuat air mata tak kunjung mengalir dari
mataku. Dan aku terlalu letih untuk sekedar berbicara. Perjalanan ini terlalu
panjang.
***
5
Tahun yang Lalu…
Waktu
menunjukkan pukul 13.30 WIB. Hujan deras baru saja turun. Untungnya ia sudah
sampai lebih dulu di rumahnya. Kalau masih dalam perjalanan, sudah pastilah ia
basah kuyup saat mengemudikan motornya, dan ia sangat benci harus berteduh di
jalan.
Seperti
biasanya, rumahnya tampak sepi. Papanya tentu saja sedang bekerja di kantor.
Kakak lelakinya juga sedang kuliah dan pastinya sibuk dengan berbagai kegiatan
organisasi kampus. Tapi…
“Eh,
ke mana si Mama ya? Biasanya lagi asik nonton TV. Ah, paling juga lagi arisan
atau pengajian,” pikir Vega sambil berjalan menuju dapur.
Benar
saja, secarik kertas berisi tulisan tangan Mamanya yang ditempel di depan pintu
kulkas memberitahukan kalau Mamanya sedang arisan di rumah Tante Mirna, teman
Mamanyanya sejak SMA dulu, dan baru balik sore nanti. Jadi Vega dipesankan
untuk ceplok telor atau goreng nugget
sebagai menu makan siang. Mamanya juga menulis, “Ve, tolong kamu masakin juga
lauk untuk Ivan. Maaf ya, Mama tadi gak sempet masak lauk, baru sempet masak
nasi aja. Ivan kayaknya mau nginep tuh. Biasalah…”
“Ivan?
Ribut lagi dia sama Om Hendro? Heran, bapak sama anak kerjanya ribut…mulu!
Hehehe…, lucu! Eh, tapi di mana tu anak?” sehabis meneguk segelas air dingin
Vega bergegas ke ruang tidur kosong yang biasanya dihuni saudara atau tamu yang
datang menginap. Sampai di depan pintu, Vega terpikir untuk mengagetkan
sepupunya yang berusia 2 tahun di atasnya itu, ia pun dengan sangat perlahan
membuka pintu kamar yang tertutup itu. Baru saja ia akan mengagetkan Ivan
dengan berteriak dan menunjukkan wajah jelek, tapi pemandangan yang disaksikannyalah
yang malah membuatnya kaget.
Mungkin
perasaan heran dan bingung lebih tepat mewakili perasaan Vega. Ia melihat Ivan
tengah duduk selonjor di atas lantai sambil bersandar ke sisi ranjang, tangan
kanannya terlihat sedang menyuntikkan jarum suntik ke tangan kirinya. Kepala
Ivan mendongak ke atas, matanya terpejam seolah sangat menikmati apa yang
sedang dilakukannya. Dari perasaan heran dan bingung, beralih menjadi
penasaran, Vega melangkah perlahan mendekati Ivan.
Vega
meneliti apa yang tengah dilakukan sepupunya itu. Tapi karena ia tetap tak
paham apa yang sebenarnya sedang dilakukan Ivan, ia pun menyentuh lengan Ivan.
Yang disentuh sontak menoleh agak kaget. Vega nyengir kuda dan segera bertanya,
“Heh, lagi ngapain sih lu, Van? Kayaknya asik gitu dah.”
“Hah,
ngagetin gue aja lu, Ve! Gue pikir nyokap lu! Iye nih, lagi asik gila gue…
Hehehe…,” Ivan menjawab seperti orang yang sedang ngantuk berat lalu mengigau,
matanya pun tampak sayu.
“Ih,
kayak orang lagi mabok lu, Van! Jadi ngeri gue! Sebenernya lu pake apa sih,
Van? Emangnya gak sakit apa nyuntik tangan lu pake jarum suntik kayak gitu?”
“Hehehe…,
tenang, Ve… Kalo lu lagi dalam situasi kayak gue, sakaw… hehehe…., nggak ada
yang namanya kata sakit, Ve…. Nggak ada tuh yang namanye kata pusing, sedih… Lu
cuma bakal ngerasa nge-fly…, perasaan
bahagia, Ve… hahaha….,” Ivan makin kacau
berceloteh.
Bukannya
ngeri seperti yang dikatakannya tadi, Vega malah merasa tertarik dengan apa
yang dilakukan Ivan. Yang bener nih, bisa
nggak ngerasa sakit, pusing, apalagi sedih? Berarti bisa ngilangin rasa BT,
bosen, and… kesepian yang selama ini bersarang di hati gue, dong? Wah, asik
banget nih! Begitu pikir Vega.
“Kalo
gitu, Van, coba bagi gue, dong! Gue kan juga mo ngerasain perasaan nge-fly…yang lu bilang itu!”
Sekilas
Ivan menoleh pada Vega, lalu nyengir dan tertawa, “Hahaha… Vega…, lu tuh masih
kecil… Lu belum boleh pake ni barang, cuy! Tunggu lu gede dulu, Ok?! Hehehe….”
“Halah,
kayak lu udah gede aje! Lu kan juga baru kelas 2 SMA, masih suka berantem lagi
sama bokap lu sendiri! Heh, bentar lagi gue juga bakal jadi anak SMA, tahu!”
Vega memberengut dan mengomel kesal.
“Ya
udah…, oke, oke…, gue kasih! Tapi jangan berisik, ye?! Kalo sampe ketauan
keluarga kita, bisa mampus kita, Ve… hehehe…. Nih, pake barang gue!” Akhirnya
Ivan menyodorkan jarum suntik berisi zat kimiawi memabukkan itu kepada Vega.
“Mampus?
Emangnya kenapa, bro? Wah, jangan-jangan
nih barang berbahaya ye?!” Meskipun mempertanyakan hal itu, toh Vega tetap
menerima jarum suntik itu dengan senang hati. Yang ditanya hanya tertawa
sumbang, lalu membantu menyuntikan jarum suntik itu ke tangan sepupunya.
Mengalirlah zat kimiawi yang tidak hanya mampu membawa penggunanya ke langit
khayal yang tak berbatas hingga mabuk, tapi juga mampu menjerat si pengguna dalam
candu yang menyakitkan. Satu hal penting yang tidak dipahami Vega saat itu, dan
belum disadari betul oleh Ivan kala itu.
Segera,
Vega ikut terbang… Entah ke lapisan langit yang mana. Tapi mampu membawanya
pergi jauh dari rasa bosan dan kesepian yang biasanya rajin menemani hari-harinya.
Vega sangat bahagia, teramat bahagia. Ia merasa menemukan obat penawar dari
sakit yang diderita jiwanya selama ini; rasa sepi yang menindih dadanya hingga
sesak, rasa jemu yang tak pernah dihiraukan keluarganya, rasa hampa yang
membuatnya menangis tanpa sebab yang jelas, rasa diabaikan, perasaan tak cukup,
perasaan-perasaan yang membuatnya muak pada hari-hari kehidupannya.
***
Hari
kelulusan yang terlalu sepi untuk Vega. Ternyata tahun-tahun yang berlalu tidak
menggeser rasa sepi dalam hidup seorang Vega Kirana Dewi. Papanya sedang ada
proyek di luar kota, Mamanya masih seperti biasa; ada, tapi tidak cukup
berperan dalam keberadaannya. Sedangkan kakaknya, Andre, yang sudah lulus
kuliah dan memilih menetap di Bandung; bahkan tidak sadar dengan kelulusan adik
semata wayangnya itu.
Saat
lulus dari SMP tiga tahun yang lalu, Vega merayakannya dengan pesta ganja dan
miras di sebuah villa di Bandung bersama Ivan dan beberapa temannya. Sekarang
pun rasanya ia tergoda untuk mengulang pesta yang sama, meskipun tanpa Ivan yang
kini tengah terpaksa menjalani terapi di sebuah panti rehabilitasi. Mengingat
itu membuat Vega mendengus kesal. Karena sebelumnya ia selalu mengandalkan Ivan
untuk mendapatkan obat terlarang itu. Gambaran pesta kimia itu jadi buyar
karenanya.
Suara
pidato dari para pejabat sekolah kini sudah berganti jadi hingar-bingar musik
yang menghentak jantung. Panggung acara kelulusan pastinya sedang berlangsung
meriah di alun-alun sekolah. Tapi Vega malah menyembunyikan dirinya di pojok
kantin. Ia tak merasa harus turut berbahagia dengan kelulusannya. Bagi Vega,
masa depan bukan hal yang menyenangkan untuk segera disongsong. Dan sejak awal
masuk ke SMU ini, ia tak punya satu pun teman dekat yang bisa diajak berbagi
suka maupun duka; jadi perayaan kelulusan ini jelas tidak berpengaruh apapun bagi
dirinya.
“Ve?
Kok sendirian aja di sini?” sebuah suara lembut tiba-tiba menyapanya.
Merasa
kesendiriannya terusik, Vega hanya melemparkan senyumnya yang masam. Tapi sosok
gadis berjilbab di hadapannya itu malah ambil posisi duduk santai di depannya. Senyum
ramah tidak hanya tersungging di bibirnya tapi juga di matanya yang selalu tampak
berbinar-binar.
“Tadi
pagi belum sarapan, jadi ngabur ke sini deh. Udah nggak tahan…laper!” jelas
gadis ramah di hadapannya itu dengan suara riang yang sepertinya tidak
dibuat-buat, tanpa ditanya.
Vega
tidak suka pembicaraan basa-basi. Ia baru saja akan memutuskan pergi saat
Aisyah—gadis berjilbab di hadapannya itu—kembali melontarkan pertanyaan, “By
the way, setelah ini mau melanjutkan ke mana?”
Sebenarnya
Vega paling tidak suka orang lain mencampuri urusannya dan ia tak pernah
merencanakan masa depannya akan seperti apa. Tapi di lubuk hatinya yang
terdalam, ia ingin ada orang yang benar-benar peduli akan hidupnya. Jadi
mungkin karena itulah akhirnya ia tetap duduk terpaku di bangkunya.
Ada
jeda waktu yang cukup lama sebelum akhirnya Vega menjawab, “Mm…, kuliah, ya,
kan? Mau apa lagi?” Vega seperti bingung dengan jawabannya sendiri. Ia pikir
itulah yang pastinya diinginkan kedua orangtuanya.
“Bagus.
Ke universitas mana kira-kira?” tanya Aisyah antusias.
“Hm…,
a… Nggak tau, gue belum mutusin mau kuliah di mana atau ambil apa,” jawab Vega
dengan sangat ragu pada awalnya.
Aisyah
tersenyum mendengar jawaban Vega dan ketegangan yang tampak saat mengatakannya.
Kemudian kembali tanpa ditanya, Aisyah menjelaskan rencananya, “Aku juga masih
bingung antara Psikologi dan Sastra Arab. Bagiku, dua-duanya sama-sama penting
dan aku minati.” Aisyah tersenyum sendiri sebelum melanjutkan, “Aku udah nabung
dari SMP untuk biaya masuk kuliah nanti. Tapi untuk biaya tiap semesternya, aku
harus kerja keras. Jadi aku harus mulai cari kerja setelah ijazah turun. Semoga
Allah memudahkan. Amin!” Aisyah kembali tersenyum.
Akhirnya
ketoprak pesanan Aisyah diantar ke mejanya, dan setelah mengucapkan terima
kasih disertai senyum yang lebar pada Mas Paiman—si tukang ketoprak yang
mengantarkan sepiring ketoprak dan segelas air putih—Aisyah segera
mengaduk-aduk ketoprak di atas piringnya sambil menawari Vega yang menolaknya
dengan gelengan kepala.
Diam-diam
Vega mengamati sosok di hadapannya itu. Wajah Aisyah hampir selalu diliputi
keceriaan dan senyum yang ramah, seolah-olah semua orang yang ia temui adalah
orang baik dan penting; keanggunan seperti tak pernah lepas dari
gerak-geriknya; dan yang paling membuat Vega sulit memusuhinya meskipun ia mau,
adalah keteduhan yang selalu terpancar dari diri Aisyah. Vega tahu, Aisyah
begitu intim dengan Tuhan. Vega iri, sangat iri. Karena, bahkan mengenalNya pun
Vega tidak. Ia merasa Tuhan memusuhinya selama ini.
Apa, sih, yang lebih
dari diri lu? Cantik? Huh, gue bahkan lebih cantik dari lu. Pinter? Setau gue,
lu nggak pernah dapet rangking lima besar. Kaya? Seperti pengakuan lu sendiri,
untuk biaya masuk kuliah aja elu harus nabung dari SMP?! Gila, niat amat lu
kuliah! Trus, kenapa gue harus iri sama lu? Shit! Gue cuma mau nikmatin hidup
seindah, sedamai, seteduh, sebahagia yang elu rasain selama ini. Huh, nggak
kayak hidup yang selama ini gue rasain; tai kucing!
Merasa
jengkel, Vega bangkit berdiri dan dengan langkah panjang-panjang pergi menjauh.
Meninggalkan Aisyah yang menatap kepergiannya yang tanpa sepatah kata pun dengan
wajah bingung.
***
Mungkin
aku sempat pingsan. Saat bangun aku sudah berada di atas hamparan salju.
Sebentar saja dingin yang sangat sudah menjalari tubuhku. Sama seperti
sebelumnya, tak tampak ada kehidupan di sini. lagi-lagi mendapati diriku
terdampar sendirian membuat hatiku dicekam rasa ngeri. Di udara sedingin ini,
aku tak terlindungi oleh selembar pun baju hangat. Kuamati diriku sendiri; aku
hanya memakai sebuah baju tipis, baju yang biasanya digunakan oleh pasien yang
menjalani rawat inap di rumah sakit. Gigiku mulai bergemeletukan sementara
tubuhku bergetar.
Sekarang
aku kehabisan nafas. Darah… noda darah mengotori putihnya salju. Darah yang
ternyata menetes-netes dari hidungku. Darah… sekarang aku muntah darah.
Tubuhku
menggigil hebat. Dan sudah sejak tadi aku jalan merangkak. Seharusnya aku sudah
mati sejak tadi. Kupikir bertahan hidup adalah hal yang paling sulit, ternyata
aku salah, kematian bagi seorang pendosa jauh lebih sulit.
***
2
tahun seletah masa kelulusan SMU…
Di
sebuah kamar hotel, seorang gadis tengah memuaskan hasrat seorang lelaki
berusia akhir 40 tahun dengan tubuh moleknya. Antara sadar dan tidak, ia hanya
bisa pasrah tubuhnya digerayangi si pria hidung belang. Karena cuma dengan
begini ia bisa mendapat uang berlebih untuk memenuhi ketergantungannya akan
obat-obat terlarang. Uang saku yang cukup besar untuk ukuran anak kuliahan di
kota metropolitan yang diberikan tiap bulan oleh ayahnya lewat rekening bank
tidak akan pernah cukup. Apalagi mamanya suka mengecek isi rekeningnya, lebih
rajin daripada mengecek kondisi batin anaknya sendiri.
Ia
selalu mengkonsumsi ‘obat’ sebelum memulai aksinya sebagai alat pemuas. Agar ia
tidak akan terlalu sadar apa yang ia lakukan dan alami saat pergumulan itu
terjadi. Ia muak setiap kali harus melakukannya. Tapi seolah tak ada pilihan.
Toh, sudah terlanjur basah, ya sekalian mandi saja; begitu selalu pikirnya.
Dua
tubuh yang tak lagi berbusana itu akhirnya selesai dengan percumbuan mereka.
Keduanya sudah sama-sama lelah dalam peluh. Mereka tertidur setelah
melakukannya.
Seraut
wajah yang terbingkai jilbab tiba-tiba muncul. Wajah seorang gadis yang tak
asing. Mata si gadis berjilbab yang biasanya berbinar seolah tersenyum itu
terlihat berkaca-kaca, ada air mata yang menggenang di sana. Sendu gadis itu
berbicara, “Ve…, hidayah bukan sesuatu yang serta merta turun begitu saja.
Hidayah itu sesuatu yang harus kita usahakan. Lekaslah kembali, Ve… selalu ada
jalan untuk pulang. Cari jalan itu, Vega! Lekas! Sebelum semuanya terlambat.
Sebelum…” Mata gadis itu tiba-tiba membulat, menatapnya nanar sebelum akhirnya
berteriak, “Vega….!!!”
“Aisyah….!”
Vega menjeritkan sebuah nama saat ia terbangun dari tidurnya yang diselubungi
mimpi. Keringat membanjiri kening dan lehernya. Jantungnya berdegub teramat
kencang. Nafasnya turun naik tak beraturan. Matanya mengedarkan pandang ke
sekeliling ruangan; masih kamar hotel yang sama. Kepalanya menoleh pada lelaki
paruh baya yang tengah mendengkur, tertidur pulas. Vega memejamkan mata, jijik
pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba
HPnya yang tergeletak di atas meja di samping ranjang berbunyi. Perlahan Vega
mengambilnya; sebuah SMS masuk. Segera Vega membacanya; Ve,
km kmn aja, sih?! Knp HP km ga d’angkat2?! Cpt pulang! Ivan mninggal. Sms
barusan dari Mamanya. Layar HPnya menunjukkan ada sebelas miscall.
Seperti
ada yang menghunjam jantungnya. Beberapa detik ia hanya mampu terdiam. Setelah
sadar ia langsung menyambar bajunya yang berhamburan di lantai. Tak lama ia
sudah ada di luar hotel. Segera ia naiki taksi yang lewat di hadapannya.
Meninggal? Ivan
meninggal? Mimpi
tadi, apa maksud dari mimpi gue tadi?! Sial, kenapa gue jadi takut begini! Batin
Vega terus menceracau selama perjalanan di dalam taksi.
Baru
sejam yang lalu hujan yang deras akhirnya mereda. Suhu udara pada jam sebelas
malam yang baru selesai diguyur hujan pastinya mengundang untuk berselimut di
atas ranjang empuk yang hangat. Sopir taksi di jok kemudi semakin sering
menguap. Dan pada saat matanya terpejam sejenak untuk mengusir air yang
menggenang di matanya karena terlalu sering menguap, beberapa meter di depan
dari sebuah belokan muncul sebuah truk dengan kecepatan tinggi. Saat si supir
kembali membuka matanya, truk besar itu sudah terlalu dekat. Si supir taksi
yang teramat kaget, seratus persen tak lagi mengantuk, segera membanting setir.
Tapi terlambat. Si supir berteriak. Gadis di jok penumpang tercekat, terlalu
kaget untuk menjerit.
***
Entah
sudah yang keberapa kali aku tersungkur mencium bumi. Ingin rasanya melolong
untuk meminta tolong pada siapapun yang mungkin mendengar. Tapi sepertinya itu
sia-sia, aku terdampar sendirian. Kini aku hanya mampu merangkak. Telapak
kakiku yang telanjang dan telapak tanganku sudah kebas. Aku merintih sebagai
bentuk tangis, karena air mata yang biasanya menandakan seseorang menangis,
sepertinya tak tersisa setetes pun di kelenjar mataku.
Aku
ingin pulang. Hanya ingin pulang. Sejak kemarin yang sepertinya sudah berlalu begitu
lamanya, aku terus mencari jalan pulang.
Tapi
bukan untuk pulang ke rumahku yang pengap oleh hampa; hanya ada Mama yang
meskipun bukan wanita karier, tapi selalu sibuk dengan dirinya sendiri; Papa
yang hanya pulang jika malam sudah terlalu larut untuk masih terjaga, dan sudah
pergi kerja lagi bahkan saat aku belum selesai mengenakan seragam; dan kak
Andre yang sepertinya terlalu sibuk hanya untuk pulang seminggu sekali, jika
sedang bersama pun kami terlalu asing untuk saling menanyakan kabar. Aku hanya
pemanis rumah. Mereka hanya perlu tahu aku pergi ke sekolah dan pulang sebelum
jam 9 malam tanpa membuat masalah yang bisa mereka dengar.
Aku
ingin pulang. Aku harus mencari jalan pulang. Pulang ke suatu tempat; Ia yang
sudah begitu lama kulupakan. Ia yang tak begitu kukenal, tapi tak bisa
kubohongi, seringkali aku merinduNya. Saat aku melihat sosok Aisyah—teman
sekolahku di SMU dulu—yang anggun dengan pakaian panjangnya; saat aku merasakan
keteduhan saat memandang wajahnya yang terbingkai jilbab; saat aku mencuri-curi
dengar tatkala ia melantunkan ayat suci Al Qur’an setiap kali pelajaran kosong.
Tapi aku terlalu iri dan membencinya untuk bertanya tentang Ia yang sepertinya
lebih ia kenal. Padahal jika aku sudi meruntuhkan sedikit saja keangkuhanku,
mungkin damai yang dirasakan Aisyah bisa sedikit merasuk ke jiwaku yang terlalu
pekat oleh dosa.
Hah…,
tidak, semuanya sudah terlambat. Aku sudah terlalu jauh tersesat. Aku tak perlu
berusaha keras lagi untuk menemukan jalan pulang itu. Perjalanan aneh yang
tanpa ujung ini sepertinya akan menuntunku pada ajal dan… neraka.
Tapi
sebelum aku mati, sungguh, aku sungguh ingin mencicipi damai itu. “Tuhan…,”
dalam hati aku menghiba dengan posisi sujud, “Allah…, beri aku semenit saja…
sejengkal surga yang bisa kureguk. Tuhan… Allah… aku mohon ampun… selama ini
aku terlalu buta untuk bisa melihat keagunganMu. Aku terlalu angkuh untuk
menyapamu. Tapi kini aku sudah terlalu hina untuk mendekatiMu.” Aku terisak
seperti bayi yang kehausan tapi lelah menangis.
Nafas…aku
begitu sulit untuk bernafas. Dadaku seperti terbakar. Aku pasrah dalam sujudku
yang tanpa daya. Sekujur tubuhku telah membeku. Dengan bibirku yang kelu dan
gigi yang terus bergemeletuk, tak henti aku menyebut sebuah nama yang membuat
hatiku terasa diremas-remas setiap kali mengucapkannya. “Allah…, Allah…, Allah…,
Allah…, Allah…..”
Entah
sudah berapa ratus kali aku menyebut nama agung yang membuat aku kian kerdil
tatkala mengucapkannya saat tiba-tiba rasa hangat perlahan menjalari tubuhku.
Melumerkan kebekuan yang menikam keseluruhan diriku. Tapi aku gemetar ketika
telingaku menangkap suara, satu-satunya suara yang berkata-kata padaku
sepanjang perjalanan aneh dan menyakitkan ini. Dan aku terlalu lemah untuk
menoleh pada asal suara itu. Keningku masih menempel di atas hamparan salju.
“Bangunlah, perjalanan
panjang yang teramat sulit ini sudah kau tempuh. Semoga dapat mengampuni
dosa-dosamu selama di dunia. Bangunlah sejenak dari tidur panjangmu, minta
maaflah pada kedua orang tuamu. Lalu sholatlah. Ruhmu akan segera meninggalkan
jasadmu. Waktunya istirahat yang panjang, sambil menunggu hari berbangkit di
mana pengadilan Maha Adil akan dilaksanakan. Bangunlah, lalu ambil tiketmu
untuk pulang. Semoga setelah ini, Allah akan mempermudah segalanya. Amin!”
***
Di
sebuah ruang ICU, seorang gadis dengan wajah pucat tengah berbaring di atas
ranjang serba putih. Di tubuhnya terpasang berbagai macam selang. Beberapa
selang terhubung pada sebuah layar monitor yang menunjukkan pergerakan
garis-garis yang naik turun secara sangat perlahan. Di sisi kanan dan kiri
ranjang berdiri sepasang suami istri paruh baya dengan wajah sedih yang tampak
letih. Sudah hampir sebulan anak gadis mereka yang kehilangan banyak darah saat
kecelakaan tragis yang menimpanya itu koma.
Di
ujung ranjang seorang pria muda terlihat khusyuk dengan tilawah Qur’annya.
Salah satu tangannya menggengang salah satu telapak gadis yang terbaring koma
itu. Hatinya diiris kenangan-kenangan kosong bersama sang gadis. Betapa tak pantasnya aku menyandang status
kakak baginya. Begitu selalu kalimat yang bergema di benaknya, melukai
hatinya.
Tiba-tiba,
seperti sebuah keajaiban, dengan sangat perlahan, si gadis yang pucat nyaris
seperti mayat itu membuka matanya. Suara pelan dan nyaris bergetar keluar dari
bibirnya, “Ma…, Pa…, kak…An..dre….h.. Ve..ga… min..ta… ma…af…” Ia tampak sangat
berjuang untuk mengatakannya. “To…long… ban…tu… Ve…ga… hun..tuk… sho…lat….”
Suami
istri dan anak lelaki mereka terlalu bahagia untuk bisa berkata-kata. Seperti
diburu sesuatu, mereka segera bergerak untuk membantu si gadis memenuhi
keinginannya. Tak lama mereka sudah pada posisinya masing-masing, berdiri di
atas sajadah, kecuali si gadis yang tetap dalam posisi berbaring di atas
ranjang, hendak melaksanakan sholat Subuh berjamaah; sesuatu yang dulu, dulu
sekali, pernah mereka lakukan.
Hingga
di rakaat kedua sholat mereka, pada saat tahiyat akhir, bacaan sholat si gadis
terhenti hanya sampai kalimat asyhadualla
ilahaillallah, wa asyhadu anna muhammadan abduhu wa rasuluh…. Si gadis
kembali terlelap dalam tidur yang lebih panjang. Berbalut mukena putih, gadis
itu pergi meninggalkan senyum manis yang terlukis di keseluruhan wajahnya.
(Keterangan:
sudah dimuat dalam buku kumcer antologi bersama 24 penulis lainnya; KOLASE 2 –
Dari Balik Jendela, 2011)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar