pages

Sabtu, 06 April 2013

Sedikit Ungkapan Cintaku untuk Ibu...


Ibu...
kata itu begitu merdu
melantun di kedalaman hatiku

Ibu...
dalam marah, lelah, dan kecewamu pun
kau masih mengasihiku
cintamu seolah tanpa syarat
sayangmu pada anakmu
tak pernah tergerus waktu
tak ada yang bisa mengurangi
atau pun menambahkan cintamu pada anakmu
cintamu mengabadi
menyelimuti rapuhku...
melipur laraku...

Detakan Waktu...


Pagi tanpa terasa bergilir menjadi siang. Kewajiban pagiku belum usai, tapi kewajiban siangku sudah menunggu untuk dikerjakan. Waktu... memburu... Langkahku begitu pelan, padahal jatah hidup kian berkurang. Duhai, waktu... aku sudah tahu kau tak bisa menunggu. Tapi aku malah dengan dungunya menyempatkan diri menari-nari di lingkaran peri.

Hidup memang tidak pernah bisa tanpa tujuan. Yang punya tujuan saja kadang masih bisa tergoda melirik hal-hal yang seharusnya tidak dilirik. Apa lagi yang tak punya tujuan dan tidak tahu apa tujuannya?

Waktu terus bergulir. Menjadi backsound setiap pekerjaan. Berpikir, membaca, menulis, merasa... dipompa oleh nafas: mimpi.

- 6 Januari 2011 -

Sebuah Surat untuk Muhammadku Tercinta


Ya Rasul tercinta, kenapa masih ada orang-orang yang menghinakan namamu? Padahal sudah beratus abad kau tinggalkan dunia fana ini. Ya Rasul terkasih, kenapa mereka bisa menistakan namamu sedemikian rupa tanpa ilmu? Tidakkah mereka tahu bahwa setiap perkataan & perasaan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak?

Duhai Rasul tersayang, hatiku sakit....sakit sekali! Membaca kata-kata penuh hinaan yang tertuju padamu. Tidakkah mereka tahu, bahwa ada banyak orang yang meski tidak menerima ajaran yang kau bawa itu di dalam hatinya, tapi mereka mengakui keindahan budi pekertimu? Bahkan mereka mengakui kehebatan masa-masa di bawah kepemimpinanmu. Tidakkah mereka yang menghinakanmu itu bicara berdasarkan ilmu??

Untuk Palestina yang Tercabik, Aku Terluka...


Duhai pedih perinhya duka lukamu, Palestina... membuatku malu atas keluh kesahku. Duhai betapa panjangnya deritamu, Palestina.... membuat umat manusia sedunia yang masih punya nurani terpekur dalam doa-doa panjang untukmu.

Oh, Palestina, bersabarlah... akan ada masanya, Zionis Israel biadab itu akan kocar kacir pergi dari tanahmu yang suci, bahkan semua pohon dan batu yang mereka pakai untuk bersembunyi akan membantumu menghabisi mereka! Bersabarlah, umat Islam sedunia tengah turut berjuang untukmu.

Bersabarlah, kaum perampok barbar itu hanya tengah menggali kuburnya sendiri, mereka tengah mendepositokan kejahatan mereka untuk membangun istana mereka di dalam neraka jahannam paling dalam! Tabahlah dalam perjuanganmu, duhai negeri para nabi, Palestina tercinta....


Catatan: pernah diposting di akun FB penulis, tertanggal 3 Juni 2010

Hanya Pergantian Cuaca Hati

Siang tadi aku mendung
Aku menyapamu, berharap dapat mengusir awan kelabu yang menggantung di langit hatiku
Tapi ternyata bibirku kelu untuk membicarakan cuaca hatiku denganmu
Maka aku memilih diam.. dan membiarkan kau bertanya-tanya sendirian

Aku temui Tuhanku, menumpahkan hujan gerimis itu tanpa ragu
Gerimisku reda, pelangi yang indah menjelma...

Malam ini tiba-tiba kau datang
Mengadukan pekatnya mendungmu
Hujan gerimis tak lagi mampu kau bendung
Sambil tersenyum maklum aku berujar,
"Jangan khawatir, tak lama lagi lengkungan pelangi kan hadir
Ini hanya pergantian cuaca hati
Permainan gelap terangnya bulan dan matahari..."


Catatan: Sudah pernah diposting di akun facebook penulis pada 9 Juli 2009


Senin, 01 April 2013

Bukan Cinta Terlarang


Biasanya Tita menghabiskan waktu istirahatnya hanya di dalam kelas. Tapi saat ini rasa jenuh tengah melingkupinya. Gadis pendiam berkacamata minus itu pun memilih keluar dari kelas dan duduk di bangku kayu panjang di depan kelasnya. Matanya mengamati sekeliling, para siswa-siswi yang hilir mudik menikmati jam istirahat. Dan tiba-tiba matanya menangkap seraut wajah manis dengan kulit putih bersih dan gaya rambut ala Jimmy Lin. Untuk beberapa saat matanya terus terpaku pada seraut wajah itu.
Dan tanpa rekayasa, seperti ada suatu rasa yang menyelusup lembut ke dalam hatinya. Seraut wajah yang tengah menghipnotisnya itu kini tersenyum. Manis, manis sekali…, begitu batin Tita berbisik. Senyum itu bukan terlempar untuknya, tapi untuk seorang siswa lain yang tengah disapanya dengan ramah. Dan bagaimana mungkin senyum itu bisa untuknya? Toh, murid satu itu sama sekali asing baginya. Baru kali ini Tita melihatnya.

Pertarungan Hati Hera


Alya tak pernah menyerah menyuntikkan pikiran logis kepada Hera, sebagaimana Hera yang tak pernah lelah mengabarkan pada Alya setiap rasa yang ia punya untuk Dewa. Seperti malam ini, saat dua sahabat itu tengah bertemu di sebuah kedai bakmi favorit mereka.

“Jadi, akhirnya dia menemukan perempuan yang tepat untuknya? Perempuan yang memenuhi standarnya?” tanya Alya lagi, menegaskan apa yang tadi diceritakan dengan murung oleh Hera. Pantas saja tadi Hera ogah-ogahan menyantap semangkuk mie pesanannya, memakannya perlahan tanpa selera.

Hera mengangguk lesu.

“Lalu?” tanya Alya lagi. Membuat Hera yang dari tadi menerawang kosong jadi menatap sahabatnya itu bingung, lalu bertanya balik,”Lalu apa?”

“Iya, lalu kenapa? Bukannya kamu yang selalu bilang kalau cepat atau lambat, ini pasti terjadi? Kamu juga tau, karena kamu sendiri juga yang selalu bilang, kalau kamu dan dia gak mungkin lebih dari sekedar teman dekat. Seperti katamu, bukan hanya karena kamu sama sekali bukan tipenya, tapi karena perbedaan prinsip yang selama ini membuat kamu sendiri ragu sama dia, kan? Lalu memangnya kenapa? Bukannya kamu sendiri udah tau akan begini?”

Cukup lama Hera tercenung. Memang sudah lama ia menyadari hal itu. Mereka tidak akan lebih dari sekedar teman. Dia tahu persis perempuan seperti apa yang diinginkan Dewa untuk menjadi pendamping hidupnya.

Kisah Lara


Panas yang terik membuatku kehausan sehabis pulang sekolah. Rasa haus itu menuntunku untuk segera menghampiri kulkas. Membukanya dan lekas menyambar sebotol air dingin. Kuambil gelas dari dalam rak piring, memindahkan sebagian air dingin dalam botol ke dalam gelas itu. Kuteguk air dalam gelas dengan cepat. Hah…, segar…! Alhamdulillah…


Aku membuka kembali kulkas, hendak memasukkan botol yang isinya tinggal tersisa setengahnya. Mataku melirik jelly di dalam mangkuk. Lidahku pun tergoda untuk mencicipinya. Kuambil jelly dalam mangkuk itu, lalu kusentuh dengan ujung jari telunjukku. Dingin dan kenyal.


Kuambil sendok, sudah tak sabar ingin kucicipi jelly kenyal yang dingin itu. Tapi merasa ada seseorang yang tengah mengamatiku, refleks aku pun menoleh. Benar saja, sepasang mata penuh benci tengah menatapku tajam. Merasa terlalu mengenal sosok itu, tanganku gemetar, sendok yang kupegang terjatuh begitu saja.


Mata yang menatap sadis itu kini beralih menatap mangkuk berisi jelly yang tengah kupegang. Seperti baru sadar, aku agak panik. Sosok bengis itu kini menghampiriku dengan cepat. Sial, gue jadi objek amukannya lagi! Batinku berteriak.

Elegi Siang tentang Malam

Muti belum pernah melihat tempat seindah ini. Danau besar dengan air yang tenang, dikelilingi jejeran pohon-pohon besar yang lebat oleh dedaunannya yang hijau. Kicau burung yg sangat jelas saling bersahutan, menambah kesan indahnya tempat ini.

Tapi..., kesan indah itu tak bertahan lama. Karena kemudian, Muti yang tengah duduk di atas perahu yang mengapung di atas danau bersama ketiga teman genknya dicekam oleh nuansa hening. Bukan hening yang damai, tapi hening yang mencekam. Angin yang tadinya terasa sejuk, kini terasa mematikan. Meremangkan bulu roma. Seperti ada banyak pasang mata tak ramah yang mengawasi mereka dengan seksama. Di tengah keheningan itu, hanya detak jantung mereka yang terdengar semakin kencang.

Angin yang cukup besar menghantam perahu kecil mereka, membuatnya agak oleng dan bergoyang-goyang. Spontan Muti, Karin, Aulia, dan Dinda terpekik kaget sambil memegang erat pinggiran perahu yang terbuat dari kayu itu.

Kembali hening yang mencekam. Dan pada saat itulah tiba-tiba hembusan angin membisikkan suara magis yang tak terlalu jelas di telinga Muti. Seperti ada sosok tansparan yang sejenak berbisik padanya. Tengkuk Muti dingin menegang, tanpa sadar Muti semakin keras mencengkeram tepian perahu. Tatapan matanya bersirobok dengan mata Aulia yang menyiratkan ketakutan. Sepertinya itu pula yang dilihat Aulia pada mata Muti.