Alya tak pernah menyerah menyuntikkan pikiran logis
kepada Hera, sebagaimana Hera yang tak pernah lelah mengabarkan pada Alya
setiap rasa yang ia punya untuk Dewa. Seperti malam ini, saat dua sahabat itu
tengah bertemu di sebuah kedai bakmi favorit mereka.
“Jadi, akhirnya dia menemukan perempuan yang tepat
untuknya? Perempuan yang memenuhi standarnya?” tanya Alya lagi, menegaskan apa
yang tadi diceritakan dengan murung oleh Hera. Pantas saja tadi Hera
ogah-ogahan menyantap semangkuk mie pesanannya, memakannya perlahan tanpa
selera.
Hera mengangguk lesu.
“Lalu?” tanya Alya lagi. Membuat Hera yang dari tadi
menerawang kosong jadi menatap sahabatnya itu bingung, lalu bertanya
balik,”Lalu apa?”
“Iya, lalu kenapa? Bukannya kamu yang selalu bilang
kalau cepat atau lambat, ini pasti terjadi? Kamu juga tau, karena kamu sendiri
juga yang selalu bilang, kalau kamu dan dia gak mungkin lebih dari sekedar
teman dekat. Seperti katamu, bukan hanya karena kamu sama sekali bukan tipenya,
tapi karena perbedaan prinsip yang selama ini membuat kamu sendiri ragu sama
dia, kan? Lalu memangnya kenapa? Bukannya kamu sendiri udah tau akan begini?”
Cukup lama Hera tercenung. Memang sudah lama ia
menyadari hal itu. Mereka tidak akan lebih dari sekedar teman. Dia tahu persis
perempuan seperti apa yang diinginkan Dewa untuk menjadi pendamping hidupnya.