Elegi Siang tentang Malam
Muti
belum pernah melihat tempat seindah ini. Danau besar dengan air yang tenang, dikelilingi jejeran
pohon-pohon besar yang lebat oleh dedaunannya yang hijau. Kicau burung yg sangat
jelas saling bersahutan, menambah kesan indahnya tempat ini.
Tapi...,
kesan indah itu tak bertahan lama. Karena kemudian, Muti yang tengah duduk di
atas perahu yang mengapung di atas danau bersama ketiga teman genknya dicekam oleh nuansa
hening. Bukan hening
yang damai, tapi hening yang mencekam. Angin yang tadinya
terasa sejuk, kini terasa mematikan. Meremangkan bulu roma. Seperti ada banyak
pasang mata tak ramah yang
mengawasi mereka dengan seksama.
Di
tengah keheningan itu, hanya detak jantung mereka yang terdengar semakin kencang.
Angin yang cukup besar menghantam perahu kecil mereka,
membuatnya agak oleng dan bergoyang-goyang. Spontan Muti, Karin, Aulia, dan
Dinda terpekik kaget sambil memegang erat pinggiran perahu yang terbuat dari kayu itu.
Kembali hening yang
mencekam. Dan pada saat itulah tiba-tiba hembusan angin membisikkan suara magis
yang tak terlalu jelas di telinga Muti. Seperti ada sosok tansparan yang
sejenak berbisik padanya. Tengkuk Muti dingin menegang, tanpa sadar Muti
semakin keras mencengkeram tepian perahu. Tatapan matanya bersirobok dengan
mata Aulia yang menyiratkan ketakutan. Sepertinya itu pula yang dilihat Aulia
pada mata Muti.
Karin yang biasanya
ceplas-ceplos kini cuma bisa terdiam dengan tubuh menegang. Sementara Dinda
tampak mengejang dengan gigi yang bergemeletukan, namun berusaha melontarkan
sepatah kata yang sepertinya sulit diucapkan oleh bibirnya, “A, aku…
aku..takut…” Takut. Sepertinya baru kali ini mereka benar-benar memahami definisi dari
kata itu.
Empat sekawan itu mengunci
pandangan mata mereka, tak berani mengedarkannya ke rerimbunan pepohonan. Namun
kemudian, di sisi kiri perahu, pada permukaan air danau yang tenang. Sebentuk
bayangan perlahan tampak menjelma…sosok lelaki muda sepantaran mereka. Muti dan
Aulia dengan sangat perlahan melirik sekilas ke dalam danau, dan lekas mata
mereka terpaku pada sosok yang tampak tercermin dari dalam sana. Karin dan
Dinda menyusul kemudian, melirik sosok di dalam danau itu. Tak ada teriakan,
hanya mata mereka yang kian melebar menatap sosok itu.
Dari samar hingga jelas,
lelaki dalam danau itu tersenyum. Senyum yang begitu mereka kenal. Senyum yang
memacu degub jantung keempat gadis itu kian kencang. Lalu…, “Tolong…!” teriakan
yang menyayat hati, menyentakkan ketakutan mereka ke level tertinggi.
***
"Hah....!!!"
Muti terbangun dengan keringat
yang mengucur. Dadanya turun naik tak beraturan. Nafasnya tersengal-sengal.
Tangan
Muti erat mencengkeram seprai. Matanya kini mengedari seluruh ruangan. Ruangan
kamarnya. Ini bukan lagi pemandangan di sekitar danau tadi. Syukurlah...ternyata cuma mimpi,
begitu Muti berujar dalam hati. Perlahan nafasnya pun kembali dalam ritme yang
teratur.
Bunyi ringtone handphonenya
membuat Muti kembali terkaget, tapi lekas menguasai diri. Sebelum mengangkat
panggilan teleponnya, Muti melirik jam weker di atas nakas, jarum jamnya masih
menunjukkan pukul tiga dini hari. Siapa, sih, yang iseng nelepon sepagi ini?
Muti bergumam heran dalam hati.
"Muti..., ini aku…," bisik suara yang terdengar saat Muti menekan tombol
jawab dan mendekatkan HP ke telinganya.
"Si-siapa..?" Ada getar dalam suara Muti.
“Aku… Ryo…” jawab suara
lelaki di ujung sana, masih seperti berbisik. Muti merasakan jantungnya kembali
berdegub kencang. Tangannya yang menempelkan HP ke telinga pun bergetar.
“Tolong, Muti… TOLONG….!!!”
rintihan minta tolong yang segera berubah jadi lolongan dari ujung sana, serasa
menyurutkan darah Muti. Tangannya yang memegang handphone melemas, turun ke
samping badannya. Handphone yang kini tergeletak di atas kasur masih
memperdengarkan bunyi ‘tut, tut…’, menandakan sambungan telepon yang sudah
terputus. Sigap Muti meraih handphonenya
dan membantingnya dengan kasar. Handphonenya menabrak tembok dan hancur saat
terjatuh di atas lantai.
Muti kembali disergap rasa
takut. Dan itu membuatnya kesal. Muti paling benci merasa takut. Ingatannya
kembali pada insiden dua minggu yang lalu. Kecelakaan tragis yang merenggut
nyawa Ryo. Ryo, cowok yang dianggap cupu oleh Muti, Karin, Aulia, dan Dinda
yang menamakan genk mereka Dark Angel. Ryo adalah teman sekolah mereka yang
seringkali menjadi objek kekesalan Dark Angel, terutama Muti.
"Nggak!
Gue nggak salah apa-apa!
Tewasnya Ryo itu murni kecelakaan. Dan itu sama sekali bukan salah gue!"
Muti berusaha meyakinkan dirinya sendiri, tapi ia sendiri tidak yakin.
***
Ibu
Dewi,
guru bahasa Indonesia kelas X memasuki kelas X-B, kelas yang dihuni oleh Muti
dan teman-teman genknya.
"Hadoh...males
banget gue sama pelajaran bahasa Indo! Gak penting banget! Jelas-jelas kita udah lancar ngomong pake
bahasa Indonesia, eh masih kudu diajarin lagi di sekolah!" gerutu Dinda
yang duduk di belakang Muti.
"Gue
sih bukan masalah sama pelajarannya, tapi gue nggak suka sama yang ngajarnya!
Seneng banget ngasih tugas yang nggak penting!" sambung Aulia ketus.
Aulia
duduk tepat di samping Dinda. Mereka satu meja. Sedangkan Karin duduk dengan
Muti. Bagi empat sekawan itu, ada saja hal yang pantas untuk mereka tidak
sukai.
"Udah, deh, kalian
berdua nggak usah pada menggerutu kayak gitu. Kalo nggak suka, bilang aja langsung!
Apa perlu tuh guru kita kerjain?!" canda Karin yang terkenal paling
bermulut besar di antara mereka. Kontan saja Aulia dan Dinda tertawa cekikikan.
Tapi
tidak dengan Muti. Sepertinya ia sedang tak berselera untuk menanggapi gurauan
teman-temanya itu. Insiden mimpi buruk yang disusul panggilan telepon yang
sukses membuatnya sport jantung sudah tentu menjadikan harinya ini terasa tidak
senormal biasanya.
"Karin,
Dinda, Aulia, kenapa kalian cekikikan seperti itu? Pelajaran belum dimulai,
kalian sudah ancang-ancang untuk membuat keributan? Nggak bosen apa harus
selalu ditegur?!" omel Bu Dewi yang agaknya sudah bosan dengan perilaku Dark Angel yang selalu kompak
dalam membuat kesal orang lain itu.
"Ya
makanya belum dimulai pelajarannya, Bu, kita masih berkicau!" sahut Karin
dengan suara agak direndahkan. Tentu saja Bu Dewi tak mendengar gumaman Karin.
"Oke. Kali ini saya akan meminta kalian untuk membacakan
puisi karya kalian sendiri. Karena pada pertemuan sebelumnya, saya sudah
memberikan PR menulis puisi, kan? Nah, karena sepertinya tidak memungkinkan kalau kalian
semua mendapat giliran membaca puisi. Jadi saya hanya memberikan kesempatan
pada yang benar-benar bersedia untuk menyuguhkan penampilannya membaca puisi di
depan kelas. Jadi, siapa yang bersedia?" tutur Bu Dewi
membuka kelasnya pagi ini.
Bu Dewi mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru kelas, dan menemukan seorang siswi yang
mengacungkan tangannya tinggi-tinggi. “Ya, Jufrin. Silahkan maju ke depan!” Bu
Dewi tersenyum santun sambil mempersilahkan seorang siswi yang sudah berani
mengacungkan tangannya itu.
Jufrin dengan mantap
melangkah ke depan kelas, berdiri menghadap teman-teman sekelasnya. Berhenti
sejenak untuk melihat naskah puisinya, dan mulai membaca puisi dengan
kemantapan dalam setiap pengucapan kata-katanya…
"Malam...
Izinkan aku berkata-kata
Tentang sepasang mata bintang
Yang membuat jantungku
tertikam
Tentang indahnya senyum
rembulan
Yang membuat hatiku tertawan
Tentang manisnya malam hari
Yang memaksaku mengecap
pahitnya sepi
Izinkan aku mengungkapkan
rasa
Semua rasa tentangmu, malam…
Kamu yang tak bisa kusentuh
Meski jiwaku harus terbunuh
Oleh ribuan sembilu...
Karena aku…
Siang yang merindu malam
Karena kamu…
Malam yang tak ingin ada
siang...”
Senyap.... Tapi tak lama kemudian gemuruh tepuk tangan terdengar
memenuhi kelas. Tak ada yang menyadari saat mata Jufrin bertemu dengan mata
Muti. Mereka saling menatap. Jufrin dengan tatapan matanya yang tajam, menusuk
hati Muti. Muti dengan tatapan penuh tanda tanya, seperti mencari-cari sesuatu
dalam mata Jufrin.
“Malam…”
Tengkuk Muti dingin
menegang, Muti tersentak. Kini ia mendengar dengan jelas bisikan sekilas dalam
mimpi buruk yang membangunkannya dini hari tadi. “Malam..” Ya, itulah yang
dibisikkan suara magis itu. Tanpa sadar Muti menahan nafas. Beberapa pasang
mata tak ramah yang mengawasinya dari balik pepohonan yang rimbun di danau itu…
Tiba-tiba menjelma jadi sepasang mata yang sama. Jantung Muti berdetak kencang.
Mata itu…mata penuh hiba
itu.. Mata yang menjerit meminta pertolongan saat kecelakaan naas itu terjadi
di depan matanya. Darah segar yang mengalir dari tubuh Ryo si Cupu yang terluka
parah..
Tiba-tiba
saja kepala Muti memberat, tengkuknya terasa dingin. Rasa mual menyerang ulu hatinya. Ia menyesal tidak
sempat menyentuh sarapannya pagi tadi. Muti ambruk seketika.
***
“Kenapa, sih, keliatannya..
kamu… benci banget sama…aku, Mut?” tanya cowok cupu berkacamata minus yang
berdiri sekitar satu setengah meter di hadapannya. Baru saja ia dan ketiga
temannya menjadikan si Cupu, sebutan mereka untuk cowok itu, sebagai sasaran
kekesalan mereka. Semangkuk kuah bakso dan segelas es teh sengaja ditumpahkan
ke arah si Cupu. Seragam dan proposal kegiatan PenSi yang sudah disusun si Cupu
hampir semingguan itu dan rencananya akan dibawa ke hadapan Pembina OSIS
menjadi korban tumpahan itu.
“Hm.. Kenapa ya..? Mungkin
karena tampang cupu lo yang bikin gue enek!” jawab Muti sadis.
“A-apa…apa..hubungannya,
antara fisikku dengan kebencian kamu? R-r-rasanya,
i-itu…te-ter-lalu..mengada-ada…” tanya si Cupu lagi.
“Heh! Untuk benci sama orang
kayak elo itu nggak perlu pake alesan, tauk?!” Kali ini Aulia yang ambil suara
untuk menghina.
“Tau! Udah cupu, gagap, suka
senyam-senyum sendiri, masih juga PD jadi Ketua OSIS! Asal lo tau, ya, kalo elo
nggak nekat nyalonin diri, udah dari awal Muti yang bakalan jadi Ketua OSIS!
Bukan lo, autis!” Karin memuntahkan hinaannya.
“Oh…,
jadi..cuma..ka-karena..itu..aja, Mut?” tanya si Cupu yang ditujukan langsung
kepada Muti. Seolah tak menghiraukan tiga Dark Angle lainnya.
“Itu aja?! Heh, lo pikir
enak apa dikalahin sama cowok cupu yang menang cuma karena belas kasian para
guru dan murid-murid yang lain, hah?!” Dinda tak mau kalah sadis dari Dark
Angel lainnya dalam menghina si Cupu.
“A-aku…aku..ikhlas, Mut,
me-menyerahka-kan jabatan Ke-ketua OSIS sama ka-kamu. Ma-makanya, a-aku minta
ka-kamu jadi wakil a-aku, dan…se-selalu dukung ide-ide k-kamu, Mut.
K-k-karena…”
“Karena apa?! Udah, deh,
nggak usah banyak omong! Pegel juga gitu loh dengerin lo ngomong!” sergah Karin
ketus.
“Udah sana! Kita males liat
wajah lo di sini!” usir Aulia, tak lupa melemparkan tatapan judesnya.
Si Cupu pergi berlalu
meninggalkan areal kantin sekolah. Tanpa amarah, malahan senyum khasnya yang
dianggap menambah keculunannya itu diberikannya khusus pada Muti. Padahal Muti
menatapnya dengan tatapan jijik yang sadis. Kebencian telah merasuk jauh ke
hati Muti pada si Cupu, lantaran jabatan yang sudah diidam-idamkannya malah
diambil dengan begitu mudah oleh si Cupu. Sejak saat itu, kekesalan Muti dan
the Dark Angel tak pernah sekalipun mereda.
Hingga kecelakaan tragis
menimpa si Cupu. Di jalan raya sebuah mobil angkot yang melaju dengan
ugal-ugalan menabrak motor yang tengah dikendarai si Cupu sore itu, sepulangnya
dari sekolah. Sialnya, tak ada satupun polisi lalu lintas yang sedang berpatroli
saat itu. Sedangkan kendaraan yang lalu lalang tak ada yang sudi menepi untuk
memberikan pertolongan. Para pengemudi itu terlalu takut akan terlibat masalah
kalau turun untuk membantu, bisa-bisa malah mereka yang akan jadi tersangka,
mungkin begitu mereka pikir. Lantaran sopir angkot, si pelakunya, sudah kabur
entah ke mana.
Tubuh lelaki belia yang baru
saja memasuki usia 17 tahun itu tergeletak tak berdaya, di atas rumput yang
hanya berjarak satu meter dari trotoar yang telah menghantam kepalanya yang
kini mengucurkan darah. Darah yang juga mengalir dari hidung dan telinganya.
Belum, pemuda itu belum
mati. Karena matanya tetap terbuka. Menatap jalanan, berharap seseorang yang
masih punya secuil rasa peduli akan menolongnya, membawanya ke rumah sakit
terdekat. Delapan pasang mata melihat insiden itu dari balik kaca Honda Jazz.
Ada keterkejutan di mata mereka. Tapi sayang, tak ada rasa peduli yang cukup di
hati mereka untuk memberikan pertolongan pada si korban tabrak lari. Maka tanpa
ragu, tak lama kemudian si pengemudi menjalankan kembali Honda Jazznya, tanpa
menoleh lagi. Cari selamat sendirilah, sekarang bukan waktunya jadi malaikat
penolong, Dark Angle gitu loch, bukan White Angle! Begitu seloroh hatinya.
Tanpa disadari yang lain,
salah satu pasang mata yang tadi ikut menyaksikan insiden itu dari dalam Honda
Jazz yang diturunkan kacanya, lekat menatap mata si lelaki muda yang terbujur
kaku tanpa daya itu. Mata itu seolah berteriak minta tolong. Mata itu… mata si
Cupu yang jelas-jelas lekat menatap matanya, mata Muti. Ada gemuruh rasa yang
mengaduk-aduk hati Muti. Ia sempat berpikir untuk turun dan memberikan
pertolongan, tapi rasa takut bercampur benci di hatinya membuat ia mengurunkan
niatnya itu.
Sepasang
mata itu tak pernah mampu dilupakannya. Mata itu menghantui tidurnya. Dan
tiba-tiba hari ini, mata itu kembali hadir menatapnya dari depan kelas.
Sepasang mata milik Jufrin!
***
“Hah……..!” jerit Muti setelah siuman dari pingsannya.
“Lo
kenapa, sih, Mut…?” tanya Dinda bingung campur khawatir.
“Huhuhu… hiks, hiks, hik…..” Muti malah nangis
sesenggukan. “Harusnya…harusnya… huhuhu…!”
“Harusnya apa, Mut?!” Karin jadi panik melihat Muti
menangis sambil menceracau seperti itu.
“Harusnya kita nolongin Ryo waktu itu, Karin…!” Muti
histeris. “Kenapa
kita bisa sejahat itu sama dia..? Kenapa gue bisa sebenci itu sama dia..?!”
“Muti! Sadar, Mut!” Aulia agak mengguncang-guncangkan bahu Muti yang
mengejang hebat.
“Si
Muti kerasukan
setannya si Ryo kali, ya?!” ceplos Karin asal.
“Maksud
lo?!” Aulia menatap kesal pada Karin yang seenaknya bicara.
“Mut, lo nggak lagi acting jadi drama queen, kan..?”
tanya Dinda polos saking bingungnya melihat sikap Muti. Aulia mendelik heran
pada Dinda.
“Dia datang ke mimpi gue… Dia minta tolong… Ryo nggak
akan ngebiarin gue tenang mulai sekarang… Dia mau bales semua perbuatan gue
yang sering semena-mena sama dia… Gue.. gue.. gue takut…” bisik Muti lemah,
masih diiringi isak tangis.
Karin, Aulia, dan Dinda
menatap Muti tak percaya, lalu saling melempar pandang tak mengerti. Tapi jauh
di lubuk hati mereka, kata-kata Muti yang menyebut nama Ryo dan kecelakaan naas
itu menyentakkan rasa bersalah dalam diri mereka. Rasa bersalah yang diam-diam
tumbuh subur di sudut terdalam hati para Dark Angel.
Ruang UKS itu kini hening.
Hanya isak tangis Muti yang terdengar. Selebihnya bisu.
***
Karin sedang mengemudikan
Honda Jazznya, Di samping jok kemudi ada Muti yang masih tampak sayu. Di jok
belakang ada Aulia dan Dinda yang sesekali mengobrol. Seperti biasanya, tape
mobil selalu dinyalakan oleh Karin untuk menemaninya menyetir. Penyiar radio
sedang mengudara.
“Hi, muda-mudi kota
Tangerang dan.. sekitarnya… Apakah aktivitas kalian sore ini? Mungkin ada yang
baru balik sekolah, kuliah, atau malah balik kerja? Yah, apapun itu aktivitas
kalian saat ini, gue harap kalian menikmati siaran kita sore ini.
“Ok, untuk obrolan kita sore
ini, gue pengen kita ngebahas soal… penyesalan apa, sih, yang paling bercokol
di hati lo saat ini, guys? Yuk, share sama gue di sini, sob…! Kita tunggu
partisipasinya di line telepon ya…!”
Terdengar suara dering
telepon dari radio yang sedang on air itu.
“Wah, udah ada yang masuk
aja..nih. Yowis, kita angkat…! Hallow…”
“Hallo, kak Iga… Aku…mau
sharing tentang penyesalan terbesarku saat ini.”
“Silahkan, say… Oia, kasih
tau dulu dong nama kamu…”
“Hm… namaku… Jufrin.”
Keempat gadis berseragam SMU
itu langsung menoleh ke arah tape mobil yang tengah mereka naiki, seolah-olah
mereka bisa melihat wajah si penelepon bernama Jufrin itu di sana. Mereka ingin
memastikan apakah itu Jufrin teman sekelas mereka.
“Ok, seperti biasa, Jufrin,
silahkan bercerita dan gue di sini nggak akan menginterupsi elo dengan
pertanyaan-pertanyaan sebelum elo selesai cerita. So, silahkan, girl!”
“Aku menyesal… selama aku
sekolah di SMU, aku belum pernah memperlihatkan keakrabanku dengan Ryo.” Dark
Angle kembali dikagetkan oleh si penelepon bernama Jufrin itu. Kenapa harus
nama Ryo yang disebut-sebut?
“Padahal kami satu sekolah.
Sebenarnya, aku nggak punya masalah sama Ryo, tapi Ryo yang minta aku untuk
nggak terlihat akrab dengannya saat di sekolah. Dia takut…aku malu sama
temen-temen sekolah kalo terlihat deket sama dia. Padahal aku sama sekali nggak
merasa malu. Entah kenapa Ryo bisa berpikir seperti itu.
“Mungkin, karena faktanya
aku sekelas sama empat orang cewek yang namain diri mereka Dark Angle.”
Muti, Karin, Aulia, dan Dinda
tambah heran. Wah, apa yang akan diceritakan si Jufrin, sih, sebenernya? Para
Dark Angle itu bertanya-tanya dalam hati.
“Entah karena alasan apa,
Dark Angle sangat membenci Ryo. Gak segan-segan mereka menunjukkan kebencian
mereka sama Ryo. Padahal… padahal, Ryo punya rasa sayang yang besar banget sama
salah satu dari mereka, namanya Muti.”
Muti kaget bukan kepalang
namanya disebut. Karin, Aulia, dan Dinda serentak melirik ke arah Muti yang
tampak diam terpaku dengan wajah pias. Muti was-was, sadar mimpi buruknya belum
juga berakhir untuk hari ini.
“Buku hariannya penuh
catatan tentang perasaannya pada Muti. Perasaan yang nggak pernah punya
kesempatan untuk diungkapkan. Karena…, karena Ryo udah meninggal dua minggu
yang lalu…” Isak tangis Jufrin pecah. Beberapa saat hanya ada hening yang
ditingkahi isak tangis Jufrin dan iringan lagu instrumental sendu yang sengaja
dijadikan backsound oleh si penyiar.
“Maka itu… sebelum aku dan
Mama pindah keluar kota, rencananya malam ini kami akan berangkat, aku
menyempatkan diri untuk tetap masuk sekolah. Aku memberanikan diri untuk
membaca puisi di depan kelas. Salah satu puisi Ryo yang aku salin dari buku
hariannya. Judulnya, Merindu Malam. Bagi Ryo, dia adalah siang yang merindukan
malam. Mutilah malamnya.”
Muti menutup mulutnya dengan
tangan kanannya, sementara tangan kirinya mencekal bagian seragam atasannya
yang dekat dengan dada. Seolah ada nyeri yang terasa di sana, dan Muti mencoba
menahan sakitnya.
“Rasa cinta Ryo pada Muti
adalah surat cinta yang tak pernah sampai. Maka semampuku, aku ingin
membantunya menyampaikan surat cintanya itu. Aku…, aku terlalu membenci Muti
dan ketiga teman genknya itu untuk mampu menyampaikannya secara langsung, Kak… Aku
nggak sanggup…” Jufrin menagis tanpa ragu. Sementara para Dark Angel tergugu
dalam bisu yang sama sekali tak menyenangkan.
Honda Jazz Karin masih
melaju meski dengan kecepatan minimum.
“Jufrin…? Kamu…sudah
selesai?” tanya Iga, si penyiar.
“Maaf, kak Iga, sudah…
begitu saja kisah yang ingin kubagi sebelum meninggalkan kota ini. Kota di mana
Ryo, saudara kembarku itu… telah
meninggal dua minggu yang lalu. Tanpa sempat aku menunjukkan pada semua
teman-teman sekolahku, terutama pada Dark Angle, kalau aku tidak malu punya
saudara kembar seperti Ryo. Meski gagap dan autis, dia mampu menyamai
orang-orang yang mengira diri mereka sangat normal. Ryo bersekolah dengan
sangat baik meski dengan keterbatasannya.
“Dia lelaki terakhir yang
pergi dari kelurga kami setelah meninggalnya Papa dua tahun yang lalu. Aku
sayang kamu, Yo… Aku dan Mama sangat sayang kamu…” Sambungan telepon terputus
setelah Jufrin tak mampu lagi menguasai ritme suaranya yang lebur oleh tangis.
Empat gadis di dalam Honda
Jazz itu terperangah. Jufrin saudara kembar Ryo?! Bagaimana mungkin? Mereka
sama sekali tidak mirip. Tapi Muti akhirnya mengerti, kenapa mata Jufrin
mengingatkannya pada mimpi buruknya, pada Ryo. Ya, mereka punya mata yang sama.
Karin, Aulia, dan Dinda diam-diam menangis, ada sesal di rongga dada mereka.
Dan Muti, jangan tanya
seberapa deras air matanya. Muti tak lagi mampu melihat dengan jelas, sebab air
mata menyelimuti matanya. Jauh di lubuh hatinya, rasa nyeri kian menjadi-jadi.
Paru-parunya terasa menyempit, dadanya sesak sekali.
“Malam…” Lagi-lagi
bisikan itu mampir di telinganya. Muti sadar, nyeri ini akan bercokol lama di
hatinya. Ia harus menebus ribuan sepi karena pahitnya rindu yang pernah
dirasakan siang untuk malam.
_SELESAI_
Catatan: Sudah
dikirim untuk ajang Get Your Team 1 yang diadakan Rumah Pena, tertanggal 20 Mei 2011. Dan berhasil menyabet juara
kedua! Alhamdulillah… ^^ Cerpen di atas adalah karya kami bertiga: Putri Zakiyyah (Putri Kura-kura), Ayu Phurnamasari, dan Eka Asokawaty.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar