Panas yang terik membuatku kehausan sehabis pulang sekolah. Rasa haus itu menuntunku untuk segera menghampiri kulkas. Membukanya dan lekas menyambar sebotol air dingin. Kuambil gelas dari dalam rak piring, memindahkan sebagian air dingin dalam botol ke dalam gelas itu. Kuteguk air dalam gelas dengan cepat. Hah…, segar…! Alhamdulillah…
Aku membuka kembali kulkas, hendak memasukkan botol yang isinya tinggal tersisa setengahnya. Mataku melirik jelly di dalam mangkuk. Lidahku pun tergoda untuk mencicipinya. Kuambil jelly dalam mangkuk itu, lalu kusentuh dengan ujung jari telunjukku. Dingin dan kenyal.
Kuambil sendok, sudah tak sabar ingin kucicipi jelly kenyal yang dingin itu. Tapi merasa ada seseorang yang tengah mengamatiku, refleks aku pun menoleh. Benar saja, sepasang mata penuh benci tengah menatapku tajam. Merasa terlalu mengenal sosok itu, tanganku gemetar, sendok yang kupegang terjatuh begitu saja.
Mata yang menatap sadis itu kini beralih menatap mangkuk berisi jelly yang tengah kupegang. Seperti baru sadar, aku agak panik. Sosok bengis itu kini menghampiriku dengan cepat. Sial, gue jadi objek amukannya lagi! Batinku berteriak.
“Ini punya gue, goblok!!!” makinya sambil merampas semangkuk jelly yang tadi kupegang. Sejenak ia menatap lebih bengis lagi, tepat ke dalam mataku. Membuatku turut sejenak menahan nafas, menunggu ia menjauh.
Geram. Tapi diam adalah satu-satunya kunci keselamatan. Memperpanjang masalah dengannya hanya akan melelahkan jiwa. Aku tidak takut padanya. Aku takut tak bisa menahan diri, lalu aku sendiri yang terluka.
Tunggu, sepertinya ia berbalik. Aku mulai cemas lagi.
“Plaakk!” sesuatu yang kenyal dan dingin tiba-tiba menampar wajahku dengan keras.
“Adduh!” spontan aku terpekik.
“Pluk!” jelly itu…, kini jatuh ke lantai. Tepat di depan telapak kakiku.
Perlahan, kupungut jelly itu. Kuletakkan di atas piring. Buat apa dia ambil dariku, kalau hanya untuk ia buang? Tanya batinku sesak, sambil menatap jelly di atas piring.
Itulah Zul. Kepandaiannya hanya satu; bertindak semena-mena di dalam rumah. Ya, hanya di dalam rumah. Ia jagoan kandang. Tapi selagi mampu menahan emosi, lebih baik aku jadi orang dungu yang bisu. Tidak, aku terlalu letih untuk meladeninya berkelahi.
Selepas mengganti seragam dengan pakaian rumah, aku keluar kamar. Perutku sudah keroncongan. Bergegas kuhampiri meja makan. Kubuka tutup saji, terhidang ikan goreng dan sayur kangkung. Lekas kuambil piring, menyendok nasi dan lauk-pauk ke dalamnya. Waktunya makan dengan lahap.
Usai makan, kulirik jam di dinding; pukul 2 siang. Sepertinya Ibu baru akan pulang 2 jam lagi. Tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah, Ibu sempat bilang akan pergi mengaji seperti biasa; seminggu sekali, setiap hari Jum’at. Ibu berpesan agar aku di dalam kamar saja. Ya, Ibu selalu memintaku waspada pada Zul. Bagaimana pun, ia tahu persis watak kedua anaknya.
Baru saja aku akan masuk kamar. Tapi tiba-tiba, “Agh….!” aku berteriak karena rambutku dijambak.
Setan! Apa lagi ini?! Tak puas-puasnya ia mengerjaiku. Makiku dalam hati.
“Heh, monyet! Lu bilang apa kemaren sama si Arman bego itu?!” hardiknya, semakin kencang ia menjambak rambutku.
“Bilang apa?! Gue nggak ngerti!” teriakku sambil memegang kepalaku yang terasa sakit.
“Halah, pura-pura nggak ngerti lu! Dasar anjing! Menggonggong aja tuh mulut lu!”
“Akh…! Lepasin, sakit….!!!” aku berusaha lepas dari Zul yang menggila.
Teriakan sakitku takkan dihiraukannya. Ia bukan manusia yang punya rasa belas kasihan. Maka, sekuat tenaga kutarik tangannya. Berhasil. Rambut di kulit kepalaku terlepas dari salah satu cengkeraman tangannya. Tapi sakit, ia berhasil menarik lepas beberapa helai rambutku.
“Akh…!!! Anjing…!!” sekarang dia yang kesakitan karena kugigit tangannya. Mampus!
“Dukk! Bukk! Bukkh!!!” berhasil lepas dari jambakannya, kini aku menendang lututnya dengan sangat keras. Belum puas, aku pukul ia dengan gagang sapu yang tadi tersandar tak jauh dariku.
“Akh…!!! Monyet……..!!!” Zul kembali berteriak kesakitan dan tak lupa memaki.
Tak kubuang waktu, segera aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Lemas. Aku bersandar pada pintu. Perlahan aku mengambil posisi duduk di atas lantai. Masih kudengar sumpah serapah Zul.
Kupejamkan mata. Aku sudah penat dengan kericuhan ini. Aku menyesal meladeni pertanyaan Mas Arman tentang Zul kemarin sore. Mas Arman adalah sepupuku yang kadang-kadang berkunjung ke rumah jika pekerjaannya sedang senggang. Kemarin ia berkunjung sejak siang hingga malam. Ba’da Ashar kami berbincang. Mas Arman menanyakan tentang sekolah Zul. Aku tidak bermaksud berbicara buruk tentangnya. Tapi karena tak ada hal baik yang bisa menggambarkan dirinya, aku mau bilang apa?
“Gimana sekolahnya Zul? Dia sudah mau nerusin sekolahnya lagi?” tanya Mas Arman padaku.
“Duh, tau, ya. Orang kayak dia, mah, nggak bisa direka. Entah dia masih mikirin sekolah atau nggak?” jawabku apa adanya.
“Yah…, cobalah kamu ajak dia bicara baik-baik. Jangan berantem mulu. Kayak kucing sama anjing aja, sih, kalian! Hahaha…,” saran Mas Arman yang membuatku tersenyum geli sekaligus sinis.
Usai perbincangan kami saat akhirnya Bapak pulang dari mengajar dan gantian mengobrol dengan Mas Arman, di dalam kamar aku memejamkan mata sambil menarik nafas panjang. Huh, bicara baik-baik? Sesak aku mendengarnya. Tak pernah ada percakapan yang baik-baik dengan Zul. Zul hanya kenal bahasa preman.
Tapi tak pernah ada yang benar-benar tahu tentang kondisi di dalam rumah. Mereka hanya tahu Zul keras dan nakal. Tapi mereka tak pernah mengerti betapa menderitanya aku di dalam rumah ini! Zul selalu bersembunyi di dalam kamar setiap kali sanak saudara datang. Ia menyembunyikan kuku tajam dan taringnya. Tapi jika semuanya telah pergi, sosok buasnya kembali keluar. Lalu aku dan kedua orang tuaku? Mungkin kedua orangtuaku merasa tak pantas membicarakan keburukan anaknya sendiri. Sedangkan aku sudah terlalu muak dengan semua sikapnya, meski hanya mengulangnya dalam bentuk kata-kata.
Aku muak. Aku muak dengan semua ini! Sejak TK. Ya, sejak TK aku sudah mengalami kericuhan demi kericuhan ini. Tapi hingga aku duduk di bangku SMA, 16 tahun sudah usiaku kini dan 18 tahun usianya, tak jua badai ini berakhir.
“Hingga kapan, Tuhan? Mau sampai kapan, Ya Allah…?” aku tersungkur dalam isak tangis yang pilu. Kupegangi pangkal telapak tanganku yang masih terasa sakit, meskipun insiden yang membuatnya sakit sudah seminggu berlalu. Saat Zul mencoba menendang perutku, kujadikan tangan kananku sebagai perisai. Sakit sekali rasanya saat diurut, karena ada tulang yang bergeser.
Sampai sejauh mana aku harus menerima semua perlakuannya? Tiba-tiba perkataan Bapak kembali terngiang di telingaku, “Sabar tak pernah ada batasnya.” Aku benci. Aku benar-benar benci kalimat itu! Aku ingin membunuhnya. Aku benar-benar ingin dia mati!
“Byuurr!!” tiba-tiba ada air yang mengguyur badanku.
Air? Air dari mana?
“Byurr! Duk, duk, duk, duk, dukkk!!!”
“Buka! Buka setan! Buka pintunya pengecut!!” Zul berteriak sambil menggedor-gedor pintu. Ya Allah…, dia menyiramkan air yang ia ambil dari bak kamar mandi dengan ember ke dalam kamarku lewat celah-celah ventilasi!
Sekali, dua kali, tiga kali, aku tak juga membukakannya pintu. Apa dia bilang? Aku pengecut? Apa dia sadar siapa sebenarnya yang dia tantang untuk berduel? Ya Allah…, aku adiknya, adik perempuannya. Bagaimana bisa aku yang dia bilang pengecut?!
Empat kali, lima kali, enam kali dia guyur kamarku dengan air. Kini tempat tidurku pun sudah basah. Aku terus menangis, tanpa isak. Tuhan…, apa ia ingin aku keluar, lalu membunuhku? Apa kalau begitu, semuanya akan selesai? Tidak…, aku terlalu takut untuk mati. Meski aku juga sudah muak dengan hidup.
“Zul…., Zulvan…!” ada suara memanggil dari luar rumah. Suara lelaki. Lalu kudengar pintu pagar dibuka dan titutup kembali. Hening…
Aku berpikir sejenak. Aku bingung. Tapi hanya sejenak. Segera kubuka lemari. Kuambil beberapa potong baju dan memasukkannya ke dalam tas ransel. Gegas kuganti bajuku yang basah. Pergi! Cuma itu yang otakku suruh.
***
Revi, temanku di sekolah yang paling dekat. Maka hanya nama itu yang saat ini mampu kuingat. Dan rumah pemilik nama itu, ke sanalah aku menuju.
“Assalamu’alaikum… Revi…,” agak ragu-ragu aku memberi salam. Karena rumah Revi tampak sedang ramai. Tapi tak lama kemudian Revi muncul di hadapanku. Ia terlihat agak bingung dengan kedatanganku.
“Lara? Ada apa…? Kok, tiba-tiba gini…?” tanyanya atas kedatanganku.
“Hehehe…, aku…ganggu, ya?” aku berusaha menutupi kegugupanku.
“Bukan gitu…, kan biasanya kalo main ke rumahku, kamu kasih kabar dulu sebelum ke sini… Jadi agak kaget aja kamu tiba-tiba dateng.”
“Eh.., iya, ya? Nggak, sih, tadi tu… aku cuma kebetulan lewat aja. Jadi sekalian mampir, deh. Hehe.. Eh, tapi kayaknya lagi rame, nih?”
“Iya, kakakku yang baru nikah tahun kemaren itu lagi main ke sini, bawa istrinya. Trus, kebetulan lagi ada Om sama Tanteku juga… Jadi rame gini, deh.. Hehe..,” Revi melirik tas ransel di punggungku, “Eh, emangnya abis dari mana, sih? Kok bawa tas ransel gede gitu?”
“Ah? Oh… ini…, hm…, disuruh nyokap nganterin barang ke rumah temennya! Yowislah, aku cuma mo mampir, kok. Udah, ya, aku buru-buru, nih… Assalamu’alaikum, Revi cuantik…!” aku bergegas pergi, seolah benar-benar terburu-buru. Revi tampak lebih kebingungan lagi, tapi tawanya terdengar melihat keanehan sikapku.
“Dasar cewek aneh! Hahaha… Ti-ati, neng…,” begitu katanya sambil tertawa geli.
Di belokan, saat aku tak lagi nampak oleh pandangan Revi, aku berhenti sejenak; mematung. Aku benar-benar tidak tahu harus ke mana.
***
Sudah sejak azan Ashar tadi aku di masjid ini. Kutunaikan sholat Ashar di sini. Dan barusan juga sudah kudirikan sholat Maghrib. Mungkin sampai terdengar azan Isya nanti, aku masih belum tahu harus ke mana. Maka sekarang atau pun nanti, akan tetap sama bagiku. Linglung. Aku meninggalkan rumah untuk mencari rumah. Tapi rumah mana yang bisa menerima orang asing?
Aku bersyukur, tadi siang aku sudah makan dengan lahap. Jika tidak, malam yang dingin tanpa tujuan yang jelas akan membuatku lebih tersiksa dari saat ini. Aku hanya punya selembar uang limaribuan yang kini masih tersimpan di dompet. Aku tahu aku nekat. Tapi entah, aku hanya merasa harus pergi. Dan inilah konsekuensi yang tengah kuhadapi.
Langkahku yang sangat perlahan layaknya orang yang tak punya tujuan, kini terhenti. Aku seperti mendengar isak tangis. Begitu dekat. Tapi di mana…? Aku edarkan pandanganku. Hah?! Aku terlonjak kaget saat mataku menangkap sesuatu di sudut sana, tak jauh dariku. Kondisi jalan tanpa penerangan yang cukup jelas, membuat mataku sulit mengenali apa yang kulihat.
Tapi beberapa kali kulihat, sepertinya…itu seorang gadis yang sedang berjongkok. Ya, gadis itulah yang menangis. Ia menenggelamkan wajahnya di lutut. Aku mencoba mendekat dengan sangat perlahan. Duhai…, gadis itu menangis terisak-isak. Ya Allah…, tangisnya terdengar pilu sekali… Pilu itu merambat pula ke hatiku.
Sangat hati-hati, kusentuh bahu yang terguncang karena isak tangis itu. Kaget kusentuh, lekas ia mendongakkan wajahnya. Matanya penuh menatap wajahku, mataku penuh menatap wajahnya. Beberapa jenak… “Lara…?” parau suara gadis itu menyebut namaku.
“Ya Allah…, Maya?!” aku terpekik kaget mengenali gadis itu sebagai teman sekolahku.
“Maya…., ada apa…?”
“Lara…., Lara….,” aku pilu, Maya terus menangis. Hanya namaku yang bisa ia sebut.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Terasa cukup lama. Tapi tak terlalu lama bagi orang yang tak tahu harus melangkahkan kaki ke mana.
“Mama…., dia udah nggak tahan, hidup miskin dengan lelaki yang selalu pulang hanya dengan membawa tubuh yang sempoyongan dan nafas bau minuman keras… Mama capek, banting tulang untuk anak-anaknya makan dan sekolah… Sekarang…., sekarang dia pergi. Mama pergi, Lara… Ninggalin aku dan kedua adikku… Mama pergi sama lelaki lain… hu…hu..hu…., “ Maya mulai bercerita sendiri tanpa kupinta, lalu ia kembali terisak tanpa bisa kucegah.
“Aku nggak tau harus apa, Lara… Setiap hari rumah seperti neraka! Tapi aku masih bisa bertahan. Selama masih ada Mama… Tapi sekarang… Lara…, kenapa aku harus lahir di keluarga seperti ini…?! Hah…! Mama….! Kenapa Mama tega ngelakuin semua ini sama Maya…?!” Maya histeris.
Sedih dan takut berkumpul jadi satu di hatiku. Tapi kuberanikan diri memeluk Maya, mencoba menenangkannya. Tuhan…, tubuhnya gemetar… Aku tak kuasa membendung tangisku sendiri. Dan Maya terus menangis dalam pelukanku. Tidak, aku tak berhak memintanya berhenti menangis.
Maya, teman sekolah yang tak begitu kukenal. Kami tak akrab, tapi sering saling menyapa dan melempar senyum ramah saat berjumpa. Ia gadis yang ceria. Sungguh, aku takkan pernah menduga, kalau ia hidup dalam himpitan neraka. Kini ia menangis di sudut jalan gelap yang sepi, putus asa mencari Mamanya yang hilang entah ke mana.
Duhai, Lara…, sebandingkah lukamu dengan lukanya? Aku membatin lirih.
***
Rasa haus dan letih membawaku memasuki sebuah warteg. Aku memesan segelas teh hangat. Setelah teh itu sampai ke tanganku, aku menyeruputnya perlahan. Hangat…, nikmat… Aku berdoa, semoga malam ini lembut usapan tangan sang nenek akan menghangatkan hati Maya yang terlanjur dipenuhi ribuan sembilu.
Ya, untunglah, saat tadi akhirnya kuantar Maya pulang ke rumahnya, Neneknya telah menunggu Maya di depan teras dengan wajah cemas. Entah bagaimana, si Nenek tahu kepergian anaknya. Dan perempuan tua berwajah teduh itu segera datang untuk melihat kondisi cucu-cucunya yang telah ditinggal begitu saja oleh ibu mereka. Nenek dan cucu itu segera saling berpelukan.
“Sabar ya, sayang… Masih ada Nenek…, masih ada Allah…, Maya nggak sendirian…,” lembut suara si Nenek menenangkan cucunya yang berlumuran air mata luka.
Tak terasa, segelas teh sudah habis kuminum. Aku kembali terpekur, memeluk tas ranselku. Aku galau. Dipertemukan dengan Maya di sudut jalan gelap tadi membuatku melihat keputusan pulang sebagai hal tepat yang seharusnya kulakukan. Tapi…, aku terlalu benci dengan ricuh itu. Tuhan…, aku harus bagaimana…?
“Lara?”
“Ya?” aku menjawab seseorang yang memanggil namaku. Aku tersadar, tadi aku sempat tak menapak bumi.
“Sedang apa, Lara?” suara itu lagi.
Kini aku menoleh pada pemilik suara itu. Aku menatapnya sejenak. Dia… “Zainal?” tanyaku memastikan.
“Iya, kamu pikir siapa?” seraut wajah tirus itu tersenyum.
“Sedang apa kamu?” tanyaku yang bingung karena lagi-lagi bertemu teman sekolah.
“Loh, kok, jadi kamu yang nanya aku, sih, Ra? Semalam ini, di warteg, seorang gadis, seorang diri dengan tas ranselnya. Bukannya kamu, ya, yang lebih pantes ditanya alasan keberadaannya?”
“Aku? Oh, aku… abis dari rumah temen,” jawabku asal. Zainal menyipitkan matanya, sepertinya ia tak percaya pada apa yang kukatakan. Tapi ya sudahlah. Aku terlalu pusing untuk mencari alasan yang masuk akal.
“Kamu?” aku bertanya balik.
“Ya mau makan. Mo ngapain lagi orang di warteg? Hehehe…,” jawabnya jenaka, tapi seperti menyindirku.
Ya ampun, porsi makan Zainal besar sekali. Nasi yang menggunung lengkap dengan lauk pauknya. Saat ia akan menyuapkan nasi ke mulutnya, ia menoleh sejenak dan menawariku makan. Aku bilang sudah kenyang. Aku tak bohong. Meskipun aku belum makan malam, tapi perutku sepertinya sedang tak mengenal rasa lapar.
Saat Zainal makan dengan lahap, aku mengamati tubuh kurusnya yang nampak kukuh. Hatiku bertanya-tanya; semalam ini makan di warteg? Teringat kisahku sendiri dan kisah Maya, hatiku pun bertanya-tanya tentang kisah Zainal. Adakah pula kisah pilu dari dalam rumahnya?
“Duh, aku jadi ge-er, nih, kamu liatin terus kayak gitu…,” sindiran Zainal yang genit membuatku spontan mengalihkan pandangan. Duh, malunya aku!
Aku ngeri. Dengan porsi sebegitu besar, Zainal makan dengan begitu cepat. Tapi ke mana semua lemak yang masuk ke dalam tubuhnya itu, ya…? Kok, dia kurus-kurus aja?
“Kamu sebenernya nunggu siapa, sih, Ra?” tanya Zainal tiba-tiba setelah selesai mengisi perut.
“Hah?” aku nggak connect.
“Iya, kamu, kok, masih di sini? Emangnya kamu lagi nunggu siapa? Apa cuma mo nemenin aku makan, ya? Hehehe…”
“Boleh, nggak, aku tahu, kamu abis ngapain? Dari mana dan mau ke mana?” tanpa menghiraukan pertanyaan Zainal, aku malah balik bertanya padanya.
Zainal tertawa mendengar pertanyaanku, tapi ia menjawab, “Aku baru aja selesai makan. Dan seperti yang kamu liat, aku abis makan di warteg ini dan sekarang mo pulang.” Lalu Zainal tertawa lagi.
Begitu senang ia tertawa. Apa hidup begitu mudah dan menyenangkan baginya? Aku berkata dan bertanya dalam hati.
Tidak. Ternyata hidup Zainal tidak mudah dan tidak semenyenangkan tawanya. Setidaknya itu yang kutahu setelah kami sama-sama keluar dari warteg. Aku yang linglung dan Zainal yang bingung dengan kelinglunganku, akhirnya saling bertukar kisah.
“Aku…, sebenarnya aku mencoba kabur dari rumah,” aku mulai membuka kisah.
“Kenapa?” tanya Zainal heran.
Aku terdiam lama.
“Aku hanya ingin pergi. Rumahku gaduh, penuh ricuh. Dan aku merasa tak ingin lagi berada di sana.” Aku tersenyum kecut setelah mengatakannya.
Entah apa yang terpikir di benak Zainal, hingga ia mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali. Seolah ia sudah mengerti peristiwa yang kualami tanpa harus kujelaskan lebih jauh. Syukurlah, karena aku tak punya selera untuk membicarakannya lebih banyak lagi.
“Lalu, menurutmu, masih adakah orang yang merasa kehilangan dan saat ini mungkin tengah menanti kepulanganmu dengan cemas?” tanyanya lagi kemudian.
“Ibu… Bapak…, “ ternggorokanku terasa tercekat saat menyebut kedua orang tuaku.
Seperti tahu ada tangis yang menggantung di ujung suaraku, Zainal menoleh, menatapku. Lalu suara tenangnya mengalun, “Pulanglah! Seberat apa pun kisah yang kau derita, kamu masih punya mereka di sisimu. Mereka membutuhkanmu seperti kamu membutuhkan mereka. Percayalah, pergi tidak akan menyelesaikan persoalan. Kecuali kau punya tempat yang lebih baik untuk kau tuju. Kau tahu? Setiap pulang sekolah aku mengayuh becak untuk menghidupi diriku dan ketiga adikku.”
Aku menoleh, menatap Zainal tak percaya.
“Ya. Itu yang bisa kulakukan saat ini. Ibuku…, sudah dua tahun yang lalu ia sakit. Sakit jiwa. Ada yang bilang ia jadi gila karena guna-guna. Tapi entahlah. Yang jelas sudah satu setengah tahun ini ia menjadi pasien tetap di rumah sakit jiwa. Kupikir itu pukulan keras yang harus kuterima. Ternyata bukan. Itu bukan satu-satunya. Karena setahun kemudian Ayahku meninggal. TBC akut.
Tapi syukurnya…, setengah tahun sebelum Ayah meninggal, aku sudah membantunya mencari nafkah. Karena saat itu Ayah sudah sering jatuh sakit. Tapi aku juga tak menyangka, ia akan begitu cepat meninggalkanku. Dan setengah tahun itulah Tuhan sudah mempersiapkan aku untuk hidup mandiri. Bahkan setahun sebelumnya aku sudah dites dengan pukulan yang keras. Dan ternyata aku tidak mati. Hahaha….”
Aku semakin tak percaya menatap Zainal. Ia tertawa, tapi kering. Aku tak mendengar ada hal lucu di sana.
“Ada yang bilang, ‘apapun yang tidak bisa membunuhmu, takkan membuatmu mati.’ Allah tidak pernah bermaksud menghancurkan kita dengan pedihnya hidup yang harus kita jalani, Lara. Tapi Ia senang jika kita datang padaNya dengan tangis dan permohonan karena sadar akan lemahnya kita. Lalu kemudian, Ia ingin kita belajar bangkit dari setiap kejatuhan. Tenanglah, Lara, ujianNya selalu punya batas.”
Kini aku menangis sambil menatap tirusnya wajah Zainal yang teduh, dan Zainal menatapku dengan senyumnya sambil berkata lagi, “Pulanglah, Lara. Bukankah kita hanya punya dua pilihan sikap dalam hidup? Sabar dan syukur. Kita akan dapat kelapangan jiwa dari kepasarahan diri yang tidak membuat kita menyerah.”
Zainal tak lagi membuang waktu, segera ia beranjak. Karena malam kian larut. Kini ia sudah duduk di jok kemudi becaknya. Seorang lelaki yang berusia sepantaran denganku namun memiliki pola pikir yang jauh melampauiku itu kembali melontarkan kalimat jenaka, “Mari tuan puteri, naiklah ke dalam becak hamba. Biarkan hamba mengantarkan Paduka kembali pada takhta.”
Aku tersenyum geli. Segera aku naik ke atas becak Zainal.
Di dalam becak selama perjalanan pulang, tak henti aku mensyukuri hikmah yang telah Tuhan beri padaku lewat kisah pedih teman-temanku. Ya, ternyata setiap orang tidak luput diuji dengan keluarganya masing-masing. Aku rasa, kini aku siap menghadapi hujan dan badainya. Aku akan mencoba percaya, di ujung sana, akhirnya dapat kunikmati lukisan pelangi setelah hujan reda.
-Selesai-
Catatan: Cerpen di atas pernah dikirim ke Majalah STORY dengan alur cerita yang lebih diringkas (dari 11 halaman menjadi 8 halaman) pada 14 Januari 2011, tapi hingga sekarang tidak ada kabar berita. Hehe... Otomatis, saya pikir cerpen saya kali ini pun belum punya kesempatan untuk masuk media tersebut. ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar