pages

Sabtu, 06 April 2013

Sebuah Surat untuk Muhammadku Tercinta


Ya Rasul tercinta, kenapa masih ada orang-orang yang menghinakan namamu? Padahal sudah beratus abad kau tinggalkan dunia fana ini. Ya Rasul terkasih, kenapa mereka bisa menistakan namamu sedemikian rupa tanpa ilmu? Tidakkah mereka tahu bahwa setiap perkataan & perasaan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak?

Duhai Rasul tersayang, hatiku sakit....sakit sekali! Membaca kata-kata penuh hinaan yang tertuju padamu. Tidakkah mereka tahu, bahwa ada banyak orang yang meski tidak menerima ajaran yang kau bawa itu di dalam hatinya, tapi mereka mengakui keindahan budi pekertimu? Bahkan mereka mengakui kehebatan masa-masa di bawah kepemimpinanmu. Tidakkah mereka yang menghinakanmu itu bicara berdasarkan ilmu??



Aduh..., hatiku pilu, sakit, ya Rasul.... Bagaimana bisa mereka menghinamu tanpa dasar yang jelas? Hatiku sungguh sakit, jika kutelusuri kembali riwayat hidupmu yang sarat pengorbanan. Aku menangis, saat membaca & mendengar penghinaan itu lantas kuingat kembali saat-saat kau menghadapi sakaratul maut. Di saat yang paling menyakitkan itu, masih saja yang kau ingat adalah kami. Yang kau sebut bukan nama anak-anakmu, apalagi istri-istrimu. Melainkan hanya, "Ummati..., ummati..., ummati.... (ummatku..., ummatku..., ummatku...).

Kau masih saja terus merisaukan kami di detik-detik akhir masa hidupmu di dunia ini. Kau merisaukan nasib kami di dunia dan di akhirat nanti. Kau takut kami tak selamat dunia - akhirat. Acap kali kau minta keringan atas kewajiban ibadah untuk kami. Tanpa memikirkan rasa sungkan, kau pun meminta keringanan waktu untuk kami dapat bertaubat. Hingga terputuskanlah kebijakan bahwa taubat kami masih dapat diterima hingga batas nafas sampai di kerongkongan.

Duhai, Rasul... Apalah lagi yang kurang dari upaya kerasmu menyelamat iman dan Islam kami...? Masih saja namamu ternistakan di akhir zaman ini. Maafkan kami yang tak cukup mampu membelamu, Ya manusia terkasih... Mohon maafkan kami. Ampunilah mereka yang telah menghinakan nama kekasihMu, Ya Rabb... Ampuni kami yang belum mampu sepenuhnya mengikuti jejak rasulMu.

Langkah kami masih tertatih untuk beriman & berislam secara kaffah. Tapi kami akan terus berusaha. Sungguh, kami akan berusaha. Karena kami rindu untuk melihat wajahmu, Ya Rasul.... Kami rindu dan selalu berangan-angan untuk berkumpul denganmu di Syurga yang Agung. Aamiin, Ya Rabbal 'alamin!

"Rasulullah....dalam mengenangmu, kami susuri lembaran sirahmu.
Pahit getir perjuanganmu, membawa cahaya kemenangan.
Engkau taburkan pengorbananmu, untuk umatmu yang tercinta.
Biar terpaksa tempuh derita, cekalnya hatimu menempuh ranjaunya.

Tak terjangkau tinggi pekertimu, tidak tergambar indahnya akhlakmu.
Tidak terbalas segala jasamu. Sesungguhnya engkau, Rasul mulia.
Tabahkan hatimu menempuh dugaan, mengajar arti kebenaran.
Menjulang panji kemenangan, terukir namamu di dalam Al Qur'an.

Rasulullah..., kami ummatmu, walau tak pernah melihat wajahmu.
Kami coba mengingatimu, dan kami coba mengamal sunnahmu.
Kami sambung perjuanganmu, walau kami dicaci dihina.
Tapi kami tak pernah kecewa, Allah & Rasul sebagai pembela."

"Rindu kami padamu, ya...Rasul. Rindu tiada bertepi."

 - 5 Agustus 2010 -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar