pages

Senin, 01 April 2013

Pertarungan Hati Hera


Alya tak pernah menyerah menyuntikkan pikiran logis kepada Hera, sebagaimana Hera yang tak pernah lelah mengabarkan pada Alya setiap rasa yang ia punya untuk Dewa. Seperti malam ini, saat dua sahabat itu tengah bertemu di sebuah kedai bakmi favorit mereka.

“Jadi, akhirnya dia menemukan perempuan yang tepat untuknya? Perempuan yang memenuhi standarnya?” tanya Alya lagi, menegaskan apa yang tadi diceritakan dengan murung oleh Hera. Pantas saja tadi Hera ogah-ogahan menyantap semangkuk mie pesanannya, memakannya perlahan tanpa selera.

Hera mengangguk lesu.

“Lalu?” tanya Alya lagi. Membuat Hera yang dari tadi menerawang kosong jadi menatap sahabatnya itu bingung, lalu bertanya balik,”Lalu apa?”

“Iya, lalu kenapa? Bukannya kamu yang selalu bilang kalau cepat atau lambat, ini pasti terjadi? Kamu juga tau, karena kamu sendiri juga yang selalu bilang, kalau kamu dan dia gak mungkin lebih dari sekedar teman dekat. Seperti katamu, bukan hanya karena kamu sama sekali bukan tipenya, tapi karena perbedaan prinsip yang selama ini membuat kamu sendiri ragu sama dia, kan? Lalu memangnya kenapa? Bukannya kamu sendiri udah tau akan begini?”

Cukup lama Hera tercenung. Memang sudah lama ia menyadari hal itu. Mereka tidak akan lebih dari sekedar teman. Dia tahu persis perempuan seperti apa yang diinginkan Dewa untuk menjadi pendamping hidupnya.


Perempuan itu harus smart dan berwawasan luas, sehingga tidak ada gap saat diajak diskusi tentang banyak hal. Hera masuk kriteria itu. Tapi standar Dewa tidak berhenti sampai di situ. Paras yang cantik dan body yang ideal, menjadi hal yang juga harus dimiliki. Dan yang inilah yang tidak dimiliki seorang Hera. Karena itulah ia tak pernah sedikitpun mencoba menunjukkan perasaan terdalamnya pada Dewa. Ia tak siap kehilangan Dewa seutuhnya. Meskipun ia juga tak pernah bisa memiliki kebersamaan yang utuh dengan Dewa.

Dan anehnya, meskipun ia sangat takut kehilangan kebersamaannya dengan Dewa, tapi ia pun masih merasakan ragu pada Dewa. Ragu yang baru tampak nyata pada saat ia mulai merenungi kembali tujuan kehadirannya di dunia sebagai ciptaan Sang Khalik. Ragu yang terasa benar saat ia dan Dewa mulai berbeda faham dalam prinsip hidup yang paling mendasar. Tapi ragu itu juga memudar, saat perasaan cintanya kembali meraja; membutakan logika, mengenyahkan semua pemahaman yang tadinya ada. 

Maka Hera merasa harus selalu menyembunyikan perasaanya. Dewa tak pernah boleh melihatnya. Dan setiap kali perjumpaan mereka usai, Hera harus mengemas kembali hatinya yang kacau.

Hera masih tetap terdiam. Menerawang jauh meninggalkan Alya. Maka Alya merasa harus mengusik semua itu. “Ra, sampai kapan kamu akan pupuk dan pelihara rasa cinta itu di hati kamu? Apa kurun waktu 7 tahun masih belum cukup kamu siksa hati kamu? Kamu pikir selama ini kamu memelihara cinta? Tapi aku lebih melihat kamu selama ini merawat luka dengan air cuka!”

Hera menunduk semakin dalam, memejamkan matanya. Untung percakapan ini berlangsung setelah mereka selesai menyantap mie pesananan mereka masing-masing. Jika tidak, Alya pun pasti kehilangan selera makannya. Ia sebenarnya tak suka harus mengeluarkan kata-kata yang akan membuat sahabat tersayangnya itu semakin tersudut dengan semua perasaannya, tapi ia juga merasa harus melakukannya selama sahabatnya belum mau sadar.

“Aku juga nggak ngerti harus gimana, Al. Aku pikir, 4 tahun masa kuliah berlalu, aku akhirnya bisa bebas dari perasaanku sama Dewa. Tapi ternyata berakhirnya masa perkuliahan, bukan berarti kami nggak bisa ketemu lagi. Dia tetap datang. Dia selalu datang. Dan hati aku selalu terusik, bagaimanapun aku berusaha keras menatanya.”

“Kalau mau jujur, itu bukan alasan. Kamu nggak bisa pake alasan itu terus, Ra. Masalahnya itu ada di diri kamu sendiri. Di hati kamu sendiri. Kalau masalahnya akan selesai jika kalian nggak lagi ketemu, lantas, kalau kalian harus ketemu lagi untuk suatu hal yang nggak bisa ditolak, masalahnya akan datang lagi? Gitu? Lalu kapan selesainya?!” Alya tidak bermaksud marah. Tapi Hera memang butuh suntikan logika dosis tinggi.

Kali ini Hera mulai meneteskan air matanya perlahan, tanpa isak.

“Tapi kenapa ya, Al, dia selalu baik dan perhatian? Kalau dia emang nggak suka sama aku, kenapa harus nunjukin perhatian kayak gitu?” Hera teringat segala kebaikan dan perhatian yang selama ini ditunjukan Dewa padanya; oleh-oleh setiap kali Dewa kembali dari pulang kampungnya, pinjaman uang yang tidak sedikit saat Hera sedang kepepet dan sangat membutuhkannya, kado-kado kecil yang manis, bahkan sampai mau mengurusi pendaftaran kuliah Riri—adiknya yang masuk kuliah setahun setelah kelulusannya—tanpa ia minta.

“Kenapa dia harus bikin aku bertanya-tanya? Bikin aku jadi berharap…,” gumam Hera pilu.

            “Karena dia emang baik. Yah…, walaupun baik yang salah kalau menurutku.  Dia cuma ingin jadi salah satu sahabat terbaik kamu, karena kamu pun udah jadi sahabat terbaik buat dia. Aku bisa lihat kalau dia memang nyaman sama kamu, Ra. Tuh, kan! Akhirnya sekali lagi aku harus bilang; emang pada dasarnya, tuh, gak ada yang namanya persahabatan murni di antara 2 manusia yang berbeda jenis kelamin! Makanya Islam kasih jalan yang jelas; per-ni-ka-han. Di luar itu, tanggung sendiri akibatnya!”

Alya teringat pertanyaannya pada Dewa beberapa waktu lalu, saat perjalanan pulang mereka dari acara resepsi pernikahan salah seorang teman pengajiannya dan Hera. Karena teman pengajiannya itu mengenal Dewa, mereka pun pergi bertiga. Suzuki Aeerio warna silver milik Dewa sampai lebih dulu di gang rumah Hera, maka Hera pun turun lebih dulu. Menyisakan Alya yang baru akan turun di 500 meter ke depan.

“Wa, menurut kamu, mungkin gak sih kalau persahabatan bisa berubah jadi cinta?” tanya Alya, mencoba membuka percakapan.

“Loh, emangnya kalo di dalam persahabatan itu gak ada cinta? Persahabatan itu juga salah satu bentuk dari cinta, bukan?” jawab Dewa lugas.

“Iya, saya tau, tapi maksud saya…. Ya…, bukan cinta yang universal gitu. Tapi lebih ke cinta yang special antara lelaki dewasa dan perempuan dewasa. Kamu ngertilah maksud saya.”

“Oh, hehehe… Iya, iya. Hm…, gimana ya….? Ya nggak tau. Orang, kan, beda-beda nyikapin setiap persoalan, termasuk menyikapi rasa cinta itu sendiri. Jangan disamaratakan gitu dong.”

“Oke deh. Nah, kalo kamu sendiri, gimana?”

“Hah? Aku? Hm…., nggaklah. Gak mungkin kayaknya.”

“Bener gak bisa? Kenapa?”

“Ya…, bisa aja, sih. Mungkin. Tapi mungkin butuh dipisahkan jarak yang jauh dan waktu yang cukup lama dulu, kali ya? Dan mungkin pas ketemu lagi, tiba-tiba rasa cinta itu timbul. Mungkin aja kan?”

“Yup, mungkin aja. Apa sih yang nggak mungkin kalau Allah udah berkehendak?” kesimpulan terakhir Alya sebelum turun dari mobil dan mengucapkan salam.

Alya mencoba menceritakan percakapannya itu pada Hera beberapa hari kemudian. Respon Hera betul-betul di luar dugaan Alya. Hera menangis penuh isak. Air matanya mengalir seperti tak bisa berhenti. Alya sungguh tak menyangka, karena ia pikir Hera sudah bisa mengira itu dari awal. Alya baru sadar, selama ini Hera juga menyulam harapan untuk cintanya pada Dewa. Sekali lagi Alya merasa bersalah sekaligus merasa tetap perlu untuk menyampaikannya.

Kini di kedai bakmi favorit mereka. Dua gadis yang sudah bersahabat sejak SMP itu sudah sama-sama tahu kalau Dewa tak pernah menaruh cinta pada Hera. Kemarin, Hera mendapati kabar langsung dari Dewa tentang kedekatannya dengan seorang gadis cantik bernama Vira, yang ternyata sudah berlangsung selama setahun. Dewa bilang, dia serius dengan Vira. Entah dengan maksud apa, Dewa meminta Hera untuk mendukung hubungannya itu. Hanya Tuhan yang tahu betapa remuk redamnya hati Hera setelah mendengar kabar itu.

Hera tahu, hanya Allah SWT yang bisa menyembuhkan setiap luka. Maka Hera pun datang kepadaNya. Menumpahkan seluruh tangis sedih dan pilunya di dalam sujud panjangnya, di atas sajadah.

Tapi Alya sahabat terbaik bagi Hera. Hera tak pernah sanggup menyembunyikan apapun dari Alya. Dan di kedai bakmi ini mereka bertemu. Hera tetap menceritakan kabar memilukan itu. Meskipun tahu, bukan kata-kata penghibur hati yang akan keluar dari bibir sahabatnya itu. Tapi Hera tahu dia perlu semua itu.

“Jadi, apa aku harus pergi dulu? Pergi ke tempat yang jauh dalam kurun waktu yang lama. Lalu kembali. Dan mungkin, seperti katanya, cinta itu hadir tiba-tiba saat akhirnya kami bertemu kembali. Hehehe….,” Hera dengan wajah sayunya mencoba berandai-andai, dan geli sendiri dengan angannya yang konyol.

“Trus, ninggalin aku, gitu?! Ya udah sana! Pergi jauh-jauh, deh, kalo udah nggak cinta!” Alya pura-pura ngambek.

Mereka pun tertawa bersama. Meskipun kesedihan Hera tak juga lenyap.

* * *

            Hera baru akan bersiap untuk tidur. Seharian ini dia stress dengan laporan keuangan bulanan kantornya. Bagaimana tidak stress kalau dia harus bekerja dengan isi kepala yang terus terngiang-ngiang kabar dari Edo—salah satu temannya di Jurnal Kampus dulu yang sangat dekat dengannya juga Dewa—tentang rencana Dewa yang akan melamar Vira.

Tiba-tiba saja ada panggilan masuk dari handphonenya. “Dewa?” Hera malas menjawabnya. Panggilan itu hanya dibiarkannya sampai berhenti sendiri.

            Baru saja Hera akan mematikan handphonenya, tapi sms Dewa sampai lebih dulu. Ra, km udah pulang?Bs ktmu? Ada yg mo aq bicarakn. Hera mengetikkan balasannya. Sori Wa, aq capek bgt. Mo tidur. Send. Lalu Hera mematikan handphonenya.

            Sepertiga malam terakhir seperti biasanya, Hera terbangun. Ia bangun dan turun dari tempat tidur. Mengambil wudhu, dan segera khusyuk dalam tahajudnya.

            Usai sholat tahajud dan menutupnya dengan witir, Hera mulai berdoa teramat panjang. Meskipun di dalam seluruh bacaan sholatnya sudah terlantunkan doa-doa, juga di dalam sujud terakhirnya yang panjang. Tapi ia masih ingin curhat dengan Sang Sutradara kehidupan. Hera pun mengawalinya dengan berzikir. Setelahnya,  curhat yang diiringi tangis itu pun tumpah ruah.

            “…..Ya, Rabb…., Yang jiwaku berada dalam genggamanNya, aku meminta kekuatan dariMu. Mampukan aku… Amin!” Hera mengakhiri doanya.

            Hera beranjak ke layar monitor komputernya. Setelah layarnya menyala, segera ia koneksikan dengan internet. Internet terkoneksi, ia menuju situs email. Berhasil memasukkan ID dan passwordnya, tak lama, jari jemari Hera lincah menari-nari di atas tuts keyboard. Ia sudah tahu apa yang harus ia tuliskan.

* * *

Dewa yang sejak awal kuliah telah memilih jadi orang bebas yang akan menciptakan sistemnya sendiri dalam bekerja, kini kian menanjak dengan berbagai proyek web designnya. Bahkan juga sudah menggarap bisnis jual-beli perangkat komputer. Bisa dibilang, pria yang lulus dengan menyandang gelar sarjana tehnik informatika tiga tahun yang lalu ini kian mantap dengan perusahaan kecilnya yang berkembang pesat.

Di sebuah bangunan ruko berlantai tiga. Di sanalah perusahaan kecil milik Dewa beroperasi. Di lantai dua, di sebuah ruang kantor khusus untuk direktur, Dewa sedang berada di sana, tercenung sendirian sejak satu jam yang lalu. Matanya terpejam tapi pikirannya berkelana, memutar kembali episode demi episode saat masa-masa di kampusnya dulu; kebersamaannya yang cukup sering dengan seorang sahabat terbaik bernama Hera Trisantika. Ia menghela nafasnya yang kian terasa berat. Satu jam yang lalu, ia baru saja membaca email yang dikirim gadis itu.

            Assalamu’alaikum, Wa…
            Kamu kaget ya, nerima email dariku? Gak biasanya kan, cewek cantik tiba-tiba ngirimin kamu email. Hehehe…
            Wa…, aku rasa udah saatnya aku jujur sama kamu. Udah terlalu lama aku pendam semua ini. 7 tahun. Bukan waktu yang singkat untuk terus sembunyi dari kenyataan, bukan? Kenyataan bahwa persahabatan adalah satu-satunya muara hubungan kita. Gak mungkin bisa lebih dari itu. Betapapun besarnya rasa cinta yang aku punya. Betapapun sulit dan sakitnya aku pendam semua rasaku untuk kamu selama 7 tahun ini.
            Ya, sulit. Rasanya sakit sekali menyembunyikan cinta ini dari kamu, Wa. Harus tetap kelihatan biasa-biasa aja saat temen-temen cewek di kampus kita dulu ngedeketin kamu. Harus tetap tersenyum dan kasih pendapat yang wajar saat kamu lagi PDKT sama salah satu adik tingkat kita, dan kamu minta aku berpendapat tentang dia. Bahkan beberapa hari yang lalu, aku harus memaksakan senyum bahagia saat kamu menceritakan soal kedekatan kamu dengan Vira, demi dukungan yang kamu minta dariku sebagai sahabat terbaikmu. Semua itu sulit sekali bagiku, Wa. Tapi herannya, entah kekuatan dari mana, ternyata 7 tahun sudah aku bertahan.
            Dan sekarang aku sudah putuskan. Cukup sudah sampai di sini. Maaf jika perasaan ini akhirnya harus terluapkan. Aku tak bermaksud apapun. Hanya ingin melepas topeng yang selama ini aku pakai setiap kali berhadapan dengan kamu.  Dan juga agar kamu bisa mengerti, jika selanjutnya kita tak lagi bisa sedekat dulu. Selama ini aku emang bandel, gak pernah mau denger kata-kata Alya yang selalu bilang, kalau dia gak percaya ada persahabatan antara lelaki dan perempuan dewasa yang murni tanpa ‘dinodai’ perasaan ‘cinta’.
            Aku juga ingin berterima kasih untuk semuanya. Untuk kebaikan dan perhatian yang udah kamu kasih ke aku selama 7 tahun kebersamaan kita dalam persahabatan. Walaupun semua itu akhirnya membuat aku diam-diam menaruh harapan sama kamu, harapan kalau pada akhirnya cinta itu bisa hadir di antara kita. Harapan yang ternyata bisa menyakiti hatiku lebih dalam.
Tapi tak apa, semua rasa sedih dan sakit karena mencintai kamu hanya dalam sunyi itu, membuat aku semakin sering untuk sujud di sepertiga malam, mengadukan segalanya hanya kepadaNya. Ternyata setiap luka yang kurawat selama ini (kata Alya, selama ini aku bukan sedang memelihara cinta, melainkan memelihara luka) membuat aku semakin dekat denganNya, semakin merasa tergantung padaNya. Dan membuatku menyadari bahwa cinta yang tidak mengikutsertakan Allah SWT di dalamnya, tidak akan menyisakan apapun selain luka.
            Untuk itu semua, aku ucapkan terima kasih.
            Wassalam.
            Tetap temanmu,
            Hera Trisantika

            Maafkan aku, Ra. Bukannya aku tak tahu kalau selama ini kau terluka. Tapi bagiku, memilikimu sebagai sahabat terbaik di sisiku adalah hal yang juga sangat kubutuhkan. Meski mencintaimu lebih dari itu pun aku tak mampu. Maafkanlah keegoisan pria ini. Sungguh, maafkan aku, Ra… Dewa hanya mampu menulis kata-kata itu dalam relung hatinya yang lirih.

-Fin-


(Catatan: Sudah dikirim ke Majalah STORY dengan subjek CERPEN; Pertarungan Hati Hera, tertanggal 4 November 2010. Tapi belum pernah diterbitkan dan memang tidak pernah ada kabar akan diterbitkan. Hehe... So, cerpen di atas pun cukup jadi koleksi pribadi, dan kini saya share untuk teman-teman pembaca. ^^)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar