pages

Senin, 01 April 2013

Bukan Cinta Terlarang


Biasanya Tita menghabiskan waktu istirahatnya hanya di dalam kelas. Tapi saat ini rasa jenuh tengah melingkupinya. Gadis pendiam berkacamata minus itu pun memilih keluar dari kelas dan duduk di bangku kayu panjang di depan kelasnya. Matanya mengamati sekeliling, para siswa-siswi yang hilir mudik menikmati jam istirahat. Dan tiba-tiba matanya menangkap seraut wajah manis dengan kulit putih bersih dan gaya rambut ala Jimmy Lin. Untuk beberapa saat matanya terus terpaku pada seraut wajah itu.
Dan tanpa rekayasa, seperti ada suatu rasa yang menyelusup lembut ke dalam hatinya. Seraut wajah yang tengah menghipnotisnya itu kini tersenyum. Manis, manis sekali…, begitu batin Tita berbisik. Senyum itu bukan terlempar untuknya, tapi untuk seorang siswa lain yang tengah disapanya dengan ramah. Dan bagaimana mungkin senyum itu bisa untuknya? Toh, murid satu itu sama sekali asing baginya. Baru kali ini Tita melihatnya.
“Dorr!!” sebuah suara nyaring bersamaan dengan sebuah tepukan keras di punggung tiba-tiba mengagetkannya. Tita yang kagetan hampir saja terjatuh dari duduknya.
“Hahaha….! Bengong aja! Hayo…, lagi liatin siapa…?” Erna suka sekali menggoda teman sebangkunya yang sering melamun sendiri dan kagetan itu.
“Ih…, Erna! Tega banget, sih, kamu! Bisa copot nih jantungku!” protes Tita sebal, telapak tangannya masih di atas dadanya yang tadi kaget.
“Hehehe…, maaf, Tita… Makanya, jangan bengong mulu dong! Ntar bisa kesambet, loh!”
“Ye, siapa yang lagi bengong?! Aku tuh lagi ngeliatin anak itu. Itu loh…, yang di depan kelas 3 F itu. Yang lagi ngobrol sama si Dhani. Kok, kayaknya aku belum pernah liat dia sebelum-sebelumnya deh,” jelas Tita sambil menunjuk ke arah sosok yang dimaksud dengan hati-hati. Tita paling takut kalau ketahuan lagi ngebicarain orang lain.
“Oh…, itu. Makanya gaul dikit, dong, girl! Itu tuh Marcel, anak baru yang awal-awal semester ini pindah ke sekolah kita. Tepatnya di 3 F itu. Kata anak-anak yang lain, sih, si Marcel itu anaknya asik, loh!”
“Asik gimana?”
“Ya…, baik. Ramah, supel. Gaul, deh, pokoknya,” jelas Erna apa adanya.
Sekali lagi, ada yang berdesir lembut di hati Tita. Ternyata Erna benar. Tita benar-benar kesambet. Kesambet virus cinta pada pandangan pertama!
***
Di kelas Tita ada tiga sekawan. Mereka tiga gadis cantik yang cukup populer. Populer bukan karena kaya, tapi karena jabatan yang mereka sandang di sekolah dan di kelas. Ersa, ketua OSIS sekaligus ketua kelas. Aira, sahabat ketua OSIS dan sekretaris kelas. Revi, sahabat ketua OSIS dan bendahara kelas.
Aira dan Revi memang hanya sekretaris dan bendahara kelas, tapi berstatus sebagai sahabat ketua OSIS, membuat mereka merasa punya hak untuk sombong dan jutek sama siswa-siswi kuper dan nggak penting seperti Tita. Padahal Ersa sendiri nggak segitu sombongnya kayak mereka.
Dan entah bagaimana, ternyata Marcel adalah sahabat Aira. Kok, bisa, ya, orang sebaik dan seramah Marcel bersahabat dengan orang sejutek Aira? Begitu batin Tita bertanya-tanya heran dan seperti menyayangkan. Tapi fakta yang tidak menyenangkan itu ternyata masih bisa berdampak baik bagi Tita. Karena Marcel jadi sering main ke kelasnya, walaupun tujuannya untuk menemui Aira, Ersa dan Revi.
Tapi itulah saat-saat yang dinikmati Tita. Kesempatan untuk melihat Marcel dan memperhatikannya diam-diam dari bangkunya. Marcel selalu membawa gitar dan memainkannya. Ternyata jari jemarinya begitu akrab dengan senar gitar. Merdu Marcel bersenandung. Seringkali Tita tak mengenal lagu yang dibawakannya. Kata Erna, Marcel punya band. Katanya lagi, musik bukan cuma hobi, tapi hal serius yang ditekuninya.
Siang ini pun sama, saat jam istirahat. Tita tetap duduk di kursinya, tak berniat beranjak ke mana-mana. Erna sudah pergi ke kantin dengan teman yang lain lima menit yang lalu. Seperti biasa, Erna selalu gagal mengajak Tita keluar kelas.
Tak lama kemudian, sosok yang dinanti Tita akhirnya memasuki kelasnya. Marcel datang dengan membawa gitarnya. Segera menghampiri Aira dan Revi. Ersa tidak tampak, sepertinya ia tengah sibuk dengan rapat OSIS. Suara gitar yang dipetik kini mulai mampir ke telinga Tita. Harmonisasi petikan gitar dan suara Marcel memenuhi telinga, juga hati Tita.
Dipandanginya sosok itu oleh Tita. Lama. Tentu saja dengan diam-diam. Lagi, ada yang berdesir-desir di hatinya. Dan tiba-tiba… seraut wajah yang tengah dipandanginya itu kini menoleh ke arahnya. Terlambat bagi Tita untuk berpaling dan pura-pura tidak melihat. Tita hanya bisa terpaku. Wajahnya pias. Tapi Marcel malah melemparkan senyum termanisnya. Dan sekonyong-konyong tanpa diduga, tring! Marcel mengedipkan sebelah matanya pada Tita!
Oh, My God! Pekik batin Tita. Ia seperti tersedot sebuah pusaran air. Ia berpaling seketika. Entah sudah seperti apa raut dan warna mukanya saat ini. Mimpikah ini? Lagi, batinnya bertanya sangsi. Tita menggigit bibirnya keras. “Aw!” nyatanya ia kesakitan.
Selama sisa pelajaran tak ada satupun yang benar-benar bisa ia cerna dengan baik. Tidak pula dengan perkataan Aira yang seremeh, “Oi, pinjem tip-ex, dong?!” Yang Tita kasih malah penggaris. Membuat Aira melemparkan kata-kata sadis, “Udah kuper, tulalit, bolot lagi!”
***
Sudah tiga hari ini tak dilihatnya wajah manis Marcel yang selalu ramah dan ceria. Selama itu pula langit hati Tita tersaput awan kelabu. Ia rindu. Rindu sekali. Dari obrolan tiga sekawan yang didengarnya diam-diam, samar-samar ia mendengar kalau Marcel sakit.
Ingin sekali rasanya ia menjenguk Marcel. Ia ingin tahu kondisi Marcel saat ini. Tita hanya mendengar obrolan tiga sekawan itu dengan samar-samar, jadi ia tidak tahu persis apa sakitnya Marcel.
Sepanjang jalan pulang menuju angkot, Tita tertunduk lesu menekuri jalanan aspal. Rasa suka itu kini sudah menjelma menjadi sayang. Tapi untuk menjenguk Marcel yang katanya sedang sakit pun, Tita tak punya alasan. Ia bukan siapa-siapa Marcel. Teman pun bukan. Takkan ada yang bisa memahami perasaannya ini.
Tapi esok harinya ternyata Marcel masuk sekolah lagi. Membawa kembali wajah manisnya yang selalu tersungging senyum ramah. Awan kelabu yang tiga hari kemarin menggantung di langit hati Tita tiba-tiba sirna. Tak lupa ia merapal syukur dalam hatinya.
Karena rindu yang mendalam, sepulang sekolah gadis yang baru menginjak usia 15 tahun itu diam-diam mengikuti dari belakang sosok yang dirinduinya. Tujuan mereka sama, perempatan jalan raya tempat berbagai angkot menanti para siswa-siswi yang bubar sekolah dan akan pulang dengan menggunakan jasa angkot-angkot itu. Di dekat trotoar yang biasa dipakai untuk berdiri menunggu angkot ada sebuah pos polisi. Saat itu polisi yang berjaga sedang tidak ada. Di sanalah Tita duduk sambil matanya terus memandangi sosok Marcel.
Sejak tadi angkot jurusan rumah Tita sudah banyak yang lewat. Tapi dibiarkannya berlalu begitu saja. Sedangkan angkot jurusan rumah Marcel tak juga muncul karena memang jarang. Di trotoar itu Marcel tak sendirian menunggu angkot. Ada Aira juga Revi di sana.
Sepertinya Marcel merasa letih menunggu angkot jurusan rumahnya yang tak juga nampak. Ia menoleh pada pos polisi yang tak dijaga satu pun polisi.  Marcel melangkah pasti ke arah pos polisi. Jantung Tita kian berdegup kencang seiring mendekatnya langkah Marcel.
“Hei, ada orang toh… Permisi, bu PolWan… boleh saya numpang berteduh dari teriknya matahari siang ini?” seperti biasa, Marcel selalu menunjukkan sikap ramah, lucu, dan ceria kepada siapapun.
Tita gugup. Ini akan jadi percakapan pertama mereka. Tersenyum. Betapa ingin ia tersenyum pada Marcel. Maka sebuah senyum pun segera terbit di wajah Tita. Tanpa menunggu jawaban apa-apa lagi, Marcel duduk di samping Tita. Deg! Menerima reaksi spontan dari dalam tubuhnya, Tita gelisah menelan ludah.
“Di sini lagi nunggu siapa?” tanya Marcel tiba-tiba.
“Ah? Eh…, nunggu… nunggu temen,” jawab Tita bingung sendiri. Tita membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya fine-fine saja, sebuah reaksi yang biasa dilakukannya jika ia tengah bingung.
“Oh…,” komentar Marcel singkat. Dan tiba-tiba saja, “Wah, telapak tangannya kenapa, tuh?” tangan Marcel cepat mengambil telapak tangan Tita. Membuka telapak tangan kanan milik Tita yang belepotan warna putih.
Sejenak Tita dibuat kaget oleh tindakan Marcel. Tapi bibirnya segera menjawab, “Oh, ini… Tadi tip-ex punyaku bocor pas lagi aku pake. Jadi gini deh.”
Marcel segera mencari sesuatu di dalam tas ranselnya. Dan tak lama sebotol kecil minyak kayu putih dikeluarkannya dari sana. Khas Marcel, ia selalu membawa handuk kecil yang berukuran agak panjang seperti yang biasa dimiliki murid-murid paskibra dan sebotol kecil minyak kayu putih yang sesekali dibuka tutupnya untuk sekedar ia ciumi aromanya.
“Sebentar, ya…?” pinta Marcel pada Tita tanpa menunggu persetujuan. Ternyata minyak kayu putih itu digunakannya untuk menghapus lumuran tip-ex yang mengotori telapak tangan Tita. Ia tuangkan sedikit demi sedikit minyak kayu putih itu ke telapak tangan Tita, lalu diusap-usapnya telapak tangan Tita perlahan seperti sedang mengurut tubuh bayi.
Sepuluh menit. Ya, mungkin hanya sekitar sepuluh menitan akhirnya noda tip-ex itu nyaris hilang dari telapak tangan Tita. Dan selama itu pula jantung Tita berdegup kencang. Desir-desir itu kian terasa nyata di hatinya. Marcel begitu serius menghilangkan noda tip-ex itu. Sedangkan Tita menatap seraut wajah yang kini berhadapan dengannya itu tanpa berkedip.
Ya, kini seraut wajah manis yang selalu dirinduinya itu ada di hadapannya. Begitu dekat. Padahal ia sudah terbiasa menikmati seraut wajah itu dari jauh, secara diam-diam. Tita menggigit bibirnya. Ia ingin bukti bahwa ia tidak sedang bermimpi.
“Selesai! Yeah…, bersih, kan?!” Marcel menggenggam pergelangan tangan Tita, menunjukkan hasil kerjanya yang bagus dengan riang. Tita pun tertular senyum riangnya, ia tertawa.
“Oi…, ngapain lu di sono?! Nih, angkotnya udah dateng! Cepet…!” suara Aira lantang memanggil Marcel.
“Weits, dateng juga tu angkot! Yowis, aku duluan ya?! Bye… Assalamu’alaikum…!” pamit Marcel sambil tergesa melangkah.
“Wa’alaikumsalam…,” jawab Tita teramat pelan saat Marcel sudah menghilang dari pandangan.
Tita masih ingin terus duduk di pos polisi itu. Tak bosan ia mengelus telapak tangan yang kini tercium aroma minyak kayu putih yang sebenarnya tak disukainya. Tapi aroma minyak kayu putih ini akan selamanya ia suka. Seperti momen 10 menit tadi yang akan mengabadi dalam ruang jiwanya.
Kini sore telah menggeser siang. Tapi Tita masih setia duduk sendiri di atas bangku semen pos polisi. Seolah tak rela meninggalkan kenangan siang tadi. Matanya menerawang langit sore. Mencoba menanyakan perihal perasaannya pada angin yang bertiup sepoi-sepoi.
Masih terasa sangat jelas reaksi hatinya saat tangannya disentuh Marcel. Cinta… cinta? Sungguh cintakah ini? Begitu berulang-ulang batinnya mencoba sangsi pada rasanya sendiri. Tapi bagaimana mungkin…? Ya Allah…, masih normalkah aku? Hatinya kini jadi ricuh.
***
6 bulan yang lalu…
SLTP Negeri 13 Tangerang menerima warga baru. Tepatnya kelas 3 F kedatangan murid pindahan. Anak baru ini sudah jadi pembicaraan dari hari pertama ia masuk. Wajahnya yang manis, senyumnya yang ramah dan sikapnya yang selalu menunjukkan keceriaan menjadi magnet yang membuat orang-orang di sekelilingnya merasa tertarik.
Tapi ada hal yang lebih menarik dari semua itu saat membicarakannya. Murid baru yang satu ini sangat tomboy. Bukan tomboy buatan. JIka ia berpakaian utuh, tak ada satu pun tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa ia seorang gadis. Namanya Marcellina Putri. Dia sendiri dan orang lain lebih suka memanggilnya Marcel.
Ya, Marcel. Maka begitulah ia biasa disapa. Semakin mengokohkan kemaskulinannya. Gaya bicara dan gerak-gerik yang mencerminkan seorang perempuan sama sekali tak ada padanya. Ia tak pernah berlagak jadi sok tomboy. Tapi memang begitulah adanya dirinya. Mungkin terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang Ayah membentuknya jadi pelindung sang Ibu. Waktu seolah mengikis sifat-sifat kewanitaannya.
Banyak teman-teman yang tak cukup mengenalnya akan menduga-duga bahwa ia penyuka sesama jenis. Dan begitulah kebanyakan gosip yang berhembus. Tapi Marcel terbiasa cuek. Anjing menggonggong kafilah berlalu, begitulah ia menyikapinya.
Meskipun Marcel sudah jadi bahan pembicaraan paling hot seantero sekolah, namun Tita, gadis kuper yang super pendiam, sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Hingga dua bulan setelahnya, saat ia tengah jenuh dengan suasana kelas. Saat akhirnya ia melewati jam istirahat di halaman depan kelasnya. Saat itulah kali pertama ia melihat Marcel.
Dan sialnya, stupid Cupid yang tidak bertanggungjawab meluncurkan busur panahnya tepat di hati Tita. Tunggu. Tita jatuh cinta pada Marcellina Putri? Bukan. Tita jatuh cinta pada pandangan pertama pada Marcel. Karena saat itu untuk pertama kalinya Tita melihat Marcel.
Dan takdir telah menentukan, untuk pertama kalinya Tita melihat Marcel hanya pada bagian atas tubuhnya saja. Karena bagian bawah tubuh Marcel yang sesungguhnya memakai rok seperti siswi lainnya terhalang oleh meja. Maka dalam benak Tita, ia jatuh cinta pada seorang cowok bernama Marcel.
Dan walaupun keesokan harinya Tita seperti dihantam pada kenyataan bahwa Marcel memakai rok sama sepertinya, ia tetap menyukai Marcel. Entah kenapa. Rasa suka itu bahkan bergulir menjadi rasa sayang. Membuat ia mempertanyakan kenormalannya sendiri. Membuat ia bergidik ngeri kalau-kalau ia ternyata memang punya kecenderungan seksual yang menyimpang!
***
7 tahun kemudian….
Akhirnya sidang skripsi yang menegangkan dan melelahkan itu mampu dilewatinya dengan baik. Selanjutnya tinggal mengurus masalah administrasi dan mendaftarkan diri sebagai peserta wisuda tahun ini. Hah…, lega…! Batin Tita bersorak riang. Hari-hari santai untuk beberapa bulan ke depan sudah terbayang di depan mata.
“Yah…, waktunya istirahat hati dan otak dulu deh. Sebelum akhirnya bertempur lagi. Cari nafkah sendiri dong…, masa’ mo minta mulu sama ortu!” ceracaunya pada diri sendiri.
Hari-hari penuh leha-leha kebanyakan diisinya dengan nonton acara TV. Tapi Tita tetap anti sama sinetron. Biasanya yang ditongkronginnya adalah berita, talkshow, serial drama asia, and… akhir-akhir ini… infotainment.
Sebenarnya, sih, infotainment hanya tontonan yang sudi ia lihat jika benar-benar tidak ada acara Tv yang cukup enak untuk ditonton, sedangkan rasa malas menenggelamkan minatnya untuk melakukan hal lain selain duduk diam di depan layar kaca bernama TV. Seperti siang ini. Tita tengah menonton infotainment di salah satu saluran TV swasta, meskipun selama menonton Tita semakin punya alasan untuk memasukkan infotainment ke dalam list Acara TV yang Paling Nggak Penting untuk Ditonton!
Bosan menonton infotainment, Tita baru saja akan mengganti channel, namun urung. Ada seraut wajah yang sepertinya ia kenal muncul di layar kaca, di acara infotainment itu. Awalnya Tita masih ragu. Sosok itu sudah mengalami cukup banyak perubahan. Tentu saja, sudah tujuh tahun berlalu. Tapi senyum itu, tawa riang itu…
“Gadis tomboy yang merupakan vokalis sekaligus gitaris grup band baru yang mengusung nama The Girls dikabarkan akan segera menikah akhir tahun ini. Marcel, begitu gadis yang bernama lengkap Marcellina Putri ini biasa disapa. Meskipun Marcel terkesan lebih memiliki sisi maskulin daripada feminin, namun rupanya itu tak membuat gadis tomboy yang manis ini ragu untuk menikah di usia yang relatif muda. Si gadis tomboy ternyata sang puteri yang akan segera disunting pangerannya,” penjelasan yang didengar Tita dari tayangan infotainment yang dilihatnya itu kini menghilangkan keraguannya.
Ada perasaan tak percaya melihat Marcel di sebuah acara infotainment sebagai seorang artis. Dan ada kegembiraan mendengar Marcel telah menemukan pangerannya dan akan segera menikah. Hm.., pastilah dugaan orang-orang yang pernah menyangka Marcel seorang lesbi sekarang telah terpatahkan! Batin Tita bersorak riang.
Ya, tujuh tahun telah berlalu. Dan dalam kurun waktu itu, hanya ada seorang perempuan yang membuat Tita jatuh cinta; Marcellina Putri. Tujuh tahun yang bergulir mengukir nama-nama cinta di hatinya. Hanya jatuh cinta yang tak pernah berlanjut pada kisah cinta. Namun pemilik nama-nama yang mengukir cinta di hatinya itu, syukurnya, semuanya pria tulen. Membuktikan bahwa Tita tidak memiliki kecenderungan seksual pada sesame jenis.
Tita tersenyum mengenang semua itu. Tujuh tahun telah membuatnya mengerti, rasa suka dan sayang yang ia punya untuk Marcel adalah tulus adanya. Toh, beberapa bulan terakhir sebelum kelulusan SMP pun Tita sudah menyadari bahwa Marcel adalah seseorang yang begitu ingin ia jadikan sahabat. Bukan kekasih. Maka cinta yang Tita punya untuk Marcel, bukanlah cinta yang terlarang. Meskipun hingga mereka lulus Tita dan Marcel tak pernah dekat sebagai seorang sahabat.
Namun kenangan tentang Marcel telah mengkristal dalam ruang hati Tita. Walaupun tiga tahun yang lalu saat reuni SMP, Marcel sudah lupa tentang Tita. Pelukan Tita disambut Marcel dengan hangat, meskipun Marcel jujur telah lupa pada seseorang bernama Tita. Tita tetap tersenyum. Ia tak pernah berharap lebih. Kenangan di SMP dulu sudah cukup baginya.
-Fin-


**Untuk sebuah kenangan; si tomboy M yang manis. Kenangan yang manis akan tetap manis, meski hanya satu orang yang dapat mengenangnya. 

(Catatan: Dikirim ke majalah STORY tertanggal 4 November 2010 dengan subjek CERPEN; BUKAN CINTA TERLARANG, dan dikirim ulang dengan ijin dari mba Reni Erina selaku PemRednya, setelah mengikuti pelatihan menulisnya di Rumah Pena. Aku kirim dengan subjek Pelatihan  9 Januari @Rumah Pena, tertanggal 7 Februari 2011. Tapi tidak ada kabar akan diterbitkan. Lagi-lagi cerpen gagal masuk majalah, tapi masih layak dibaca, kan? ^_~)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar