Biasanya Tita
menghabiskan waktu istirahatnya hanya di dalam kelas. Tapi saat ini rasa jenuh
tengah melingkupinya. Gadis pendiam berkacamata minus itu pun memilih keluar
dari kelas dan duduk di bangku kayu panjang di depan kelasnya. Matanya
mengamati sekeliling, para siswa-siswi yang hilir mudik menikmati jam
istirahat. Dan tiba-tiba matanya menangkap seraut wajah manis dengan kulit
putih bersih dan gaya rambut ala Jimmy Lin. Untuk beberapa saat matanya terus
terpaku pada seraut wajah itu.
Dan tanpa
rekayasa, seperti ada suatu rasa yang menyelusup lembut ke dalam hatinya.
Seraut wajah yang tengah menghipnotisnya itu kini tersenyum. Manis, manis
sekali…, begitu batin Tita berbisik. Senyum itu bukan terlempar untuknya, tapi
untuk seorang siswa lain yang tengah disapanya dengan ramah. Dan bagaimana mungkin
senyum itu bisa untuknya? Toh, murid satu itu sama sekali asing baginya. Baru
kali ini Tita melihatnya.
“Dorr!!”
sebuah suara nyaring bersamaan dengan sebuah tepukan keras di punggung
tiba-tiba mengagetkannya. Tita yang kagetan hampir saja terjatuh dari duduknya.
“Hahaha….!
Bengong aja! Hayo…, lagi liatin siapa…?” Erna suka sekali menggoda teman
sebangkunya yang sering melamun sendiri dan kagetan itu.
“Ih…, Erna!
Tega banget, sih, kamu! Bisa copot nih jantungku!” protes Tita sebal, telapak
tangannya masih di atas dadanya yang tadi kaget.
“Hehehe…,
maaf, Tita… Makanya, jangan bengong mulu dong! Ntar bisa kesambet, loh!”
“Ye, siapa
yang lagi bengong?! Aku tuh lagi ngeliatin anak itu. Itu loh…, yang di depan
kelas 3 F itu. Yang lagi ngobrol sama si Dhani. Kok, kayaknya aku belum pernah
liat dia sebelum-sebelumnya deh,” jelas Tita sambil menunjuk ke arah sosok yang
dimaksud dengan hati-hati. Tita paling takut kalau ketahuan lagi ngebicarain
orang lain.
“Oh…, itu.
Makanya gaul dikit, dong, girl! Itu
tuh Marcel, anak baru yang awal-awal semester ini pindah ke sekolah kita.
Tepatnya di 3 F itu. Kata anak-anak yang lain, sih, si Marcel itu anaknya asik,
loh!”
“Asik gimana?”
“Ya…, baik.
Ramah, supel. Gaul, deh, pokoknya,” jelas Erna apa adanya.
Sekali lagi,
ada yang berdesir lembut di hati Tita. Ternyata Erna benar. Tita benar-benar
kesambet. Kesambet virus cinta pada pandangan pertama!
***
Di kelas Tita
ada tiga sekawan. Mereka tiga gadis cantik yang cukup populer. Populer bukan
karena kaya, tapi karena jabatan yang mereka sandang di sekolah dan di kelas.
Ersa, ketua OSIS sekaligus ketua kelas. Aira, sahabat ketua OSIS dan sekretaris
kelas. Revi, sahabat ketua OSIS dan bendahara kelas.
Aira dan Revi
memang hanya sekretaris dan bendahara kelas, tapi berstatus sebagai sahabat
ketua OSIS, membuat mereka merasa punya hak untuk sombong dan jutek sama
siswa-siswi kuper dan nggak penting seperti Tita. Padahal Ersa sendiri nggak
segitu sombongnya kayak mereka.
Dan entah
bagaimana, ternyata Marcel adalah sahabat Aira. Kok, bisa, ya, orang sebaik dan
seramah Marcel bersahabat dengan orang sejutek Aira? Begitu batin Tita
bertanya-tanya heran dan seperti menyayangkan. Tapi fakta yang tidak
menyenangkan itu ternyata masih bisa berdampak baik bagi Tita. Karena Marcel
jadi sering main ke kelasnya, walaupun tujuannya untuk menemui Aira, Ersa dan
Revi.
Tapi itulah
saat-saat yang dinikmati Tita. Kesempatan untuk melihat Marcel dan
memperhatikannya diam-diam dari bangkunya. Marcel selalu membawa gitar dan
memainkannya. Ternyata jari jemarinya begitu akrab dengan senar gitar. Merdu
Marcel bersenandung. Seringkali Tita tak mengenal lagu yang dibawakannya. Kata
Erna, Marcel punya band. Katanya
lagi, musik bukan cuma hobi, tapi hal serius yang ditekuninya.
Siang ini pun
sama, saat jam istirahat. Tita tetap duduk di kursinya, tak berniat beranjak ke
mana-mana. Erna sudah pergi ke kantin dengan teman yang lain lima menit yang
lalu. Seperti biasa, Erna selalu gagal mengajak Tita keluar kelas.
Tak lama
kemudian, sosok yang dinanti Tita akhirnya memasuki kelasnya. Marcel datang
dengan membawa gitarnya. Segera menghampiri Aira dan Revi. Ersa tidak tampak,
sepertinya ia tengah sibuk dengan rapat OSIS. Suara gitar yang dipetik kini
mulai mampir ke telinga Tita. Harmonisasi petikan gitar dan suara Marcel
memenuhi telinga, juga hati Tita.
Dipandanginya
sosok itu oleh Tita. Lama. Tentu saja dengan diam-diam. Lagi, ada yang
berdesir-desir di hatinya. Dan tiba-tiba… seraut wajah yang tengah
dipandanginya itu kini menoleh ke arahnya. Terlambat bagi Tita untuk berpaling
dan pura-pura tidak melihat. Tita hanya bisa terpaku. Wajahnya pias. Tapi
Marcel malah melemparkan senyum termanisnya. Dan sekonyong-konyong tanpa
diduga, tring! Marcel mengedipkan sebelah matanya pada Tita!
Oh, My God!
Pekik batin Tita. Ia seperti tersedot sebuah pusaran air. Ia berpaling
seketika. Entah sudah seperti apa raut dan warna mukanya saat ini. Mimpikah
ini? Lagi, batinnya bertanya sangsi. Tita menggigit bibirnya keras. “Aw!”
nyatanya ia kesakitan.
Selama sisa
pelajaran tak ada satupun yang benar-benar bisa ia cerna dengan baik. Tidak
pula dengan perkataan Aira yang seremeh, “Oi, pinjem tip-ex, dong?!” Yang Tita
kasih malah penggaris. Membuat Aira melemparkan kata-kata sadis, “Udah kuper,
tulalit, bolot lagi!”
***
Sudah tiga
hari ini tak dilihatnya wajah manis Marcel yang selalu ramah dan ceria. Selama
itu pula langit hati Tita tersaput awan kelabu. Ia rindu. Rindu sekali. Dari
obrolan tiga sekawan yang didengarnya diam-diam, samar-samar ia mendengar kalau
Marcel sakit.
Ingin sekali rasanya
ia menjenguk Marcel. Ia ingin tahu kondisi Marcel saat ini. Tita hanya
mendengar obrolan tiga sekawan itu dengan samar-samar, jadi ia tidak tahu
persis apa sakitnya Marcel.
Sepanjang
jalan pulang menuju angkot, Tita tertunduk lesu menekuri jalanan aspal. Rasa
suka itu kini sudah menjelma menjadi sayang. Tapi untuk menjenguk Marcel yang
katanya sedang sakit pun, Tita tak punya alasan. Ia bukan siapa-siapa Marcel.
Teman pun bukan. Takkan ada yang bisa memahami perasaannya ini.
Tapi esok
harinya ternyata Marcel masuk sekolah lagi. Membawa kembali wajah manisnya yang
selalu tersungging senyum ramah. Awan kelabu yang tiga hari kemarin menggantung
di langit hati Tita tiba-tiba sirna. Tak lupa ia merapal syukur dalam hatinya.
Karena rindu
yang mendalam, sepulang sekolah gadis yang baru menginjak usia 15 tahun itu
diam-diam mengikuti dari belakang sosok yang dirinduinya. Tujuan mereka sama,
perempatan jalan raya tempat berbagai angkot menanti para siswa-siswi yang
bubar sekolah dan akan pulang dengan menggunakan jasa angkot-angkot itu. Di
dekat trotoar yang biasa dipakai untuk berdiri menunggu angkot ada sebuah pos
polisi. Saat itu polisi yang berjaga sedang tidak ada. Di sanalah Tita duduk
sambil matanya terus memandangi sosok Marcel.
Sejak tadi
angkot jurusan rumah Tita sudah banyak yang lewat. Tapi dibiarkannya berlalu
begitu saja. Sedangkan angkot jurusan rumah Marcel tak juga muncul karena
memang jarang. Di trotoar itu Marcel tak sendirian menunggu angkot. Ada Aira
juga Revi di sana.
Sepertinya
Marcel merasa letih menunggu angkot jurusan rumahnya yang tak juga nampak. Ia
menoleh pada pos polisi yang tak dijaga satu pun polisi. Marcel melangkah pasti ke arah pos polisi.
Jantung Tita kian berdegup kencang seiring mendekatnya langkah Marcel.
“Hei, ada
orang toh… Permisi, bu PolWan… boleh saya numpang berteduh dari teriknya
matahari siang ini?” seperti biasa, Marcel selalu menunjukkan sikap ramah,
lucu, dan ceria kepada siapapun.
Tita gugup.
Ini akan jadi percakapan pertama mereka. Tersenyum. Betapa ingin ia tersenyum
pada Marcel. Maka sebuah senyum pun segera terbit di wajah Tita. Tanpa menunggu
jawaban apa-apa lagi, Marcel duduk di samping Tita. Deg! Menerima reaksi
spontan dari dalam tubuhnya, Tita gelisah menelan ludah.
“Di sini lagi
nunggu siapa?” tanya Marcel tiba-tiba.
“Ah? Eh…,
nunggu… nunggu temen,” jawab Tita bingung sendiri. Tita membetulkan letak
kacamatanya yang sebenarnya fine-fine
saja, sebuah reaksi yang biasa dilakukannya jika ia tengah bingung.
“Oh…,”
komentar Marcel singkat. Dan tiba-tiba saja, “Wah, telapak tangannya kenapa,
tuh?” tangan Marcel cepat mengambil telapak tangan Tita. Membuka telapak tangan
kanan milik Tita yang belepotan warna putih.
Sejenak Tita
dibuat kaget oleh tindakan Marcel. Tapi bibirnya segera menjawab, “Oh, ini…
Tadi tip-ex punyaku bocor pas lagi aku pake. Jadi gini deh.”
Marcel segera
mencari sesuatu di dalam tas ranselnya. Dan tak lama sebotol kecil minyak kayu
putih dikeluarkannya dari sana. Khas Marcel, ia selalu membawa handuk kecil
yang berukuran agak panjang seperti yang biasa dimiliki murid-murid paskibra
dan sebotol kecil minyak kayu putih yang sesekali dibuka tutupnya untuk sekedar
ia ciumi aromanya.
“Sebentar,
ya…?” pinta Marcel pada Tita tanpa menunggu persetujuan. Ternyata minyak kayu
putih itu digunakannya untuk menghapus lumuran tip-ex yang mengotori telapak
tangan Tita. Ia tuangkan sedikit demi sedikit minyak kayu putih itu ke telapak
tangan Tita, lalu diusap-usapnya telapak tangan Tita perlahan seperti sedang
mengurut tubuh bayi.
Sepuluh menit.
Ya, mungkin hanya sekitar sepuluh menitan akhirnya noda tip-ex itu nyaris
hilang dari telapak tangan Tita. Dan selama itu pula jantung Tita berdegup
kencang. Desir-desir itu kian terasa nyata di hatinya. Marcel begitu serius
menghilangkan noda tip-ex itu. Sedangkan Tita menatap seraut wajah yang kini
berhadapan dengannya itu tanpa berkedip.
Ya, kini
seraut wajah manis yang selalu dirinduinya itu ada di hadapannya. Begitu dekat.
Padahal ia sudah terbiasa menikmati seraut wajah itu dari jauh, secara
diam-diam. Tita menggigit bibirnya. Ia ingin bukti bahwa ia tidak sedang
bermimpi.
“Selesai!
Yeah…, bersih, kan?!” Marcel menggenggam pergelangan tangan Tita, menunjukkan
hasil kerjanya yang bagus dengan riang. Tita pun tertular senyum riangnya, ia
tertawa.
“Oi…, ngapain
lu di sono?! Nih, angkotnya udah dateng! Cepet…!” suara Aira lantang memanggil
Marcel.
“Weits, dateng
juga tu angkot! Yowis, aku duluan ya?! Bye… Assalamu’alaikum…!” pamit Marcel
sambil tergesa melangkah.
“Wa’alaikumsalam…,”
jawab Tita teramat pelan saat Marcel sudah menghilang dari pandangan.
Tita masih
ingin terus duduk di pos polisi itu. Tak bosan ia mengelus telapak tangan yang
kini tercium aroma minyak kayu putih yang sebenarnya tak disukainya. Tapi aroma
minyak kayu putih ini akan selamanya ia suka. Seperti momen 10 menit tadi yang
akan mengabadi dalam ruang jiwanya.
Kini sore
telah menggeser siang. Tapi Tita masih setia duduk sendiri di atas bangku semen
pos polisi. Seolah tak rela meninggalkan kenangan siang tadi. Matanya
menerawang langit sore. Mencoba menanyakan perihal perasaannya pada angin yang
bertiup sepoi-sepoi.
Masih terasa
sangat jelas reaksi hatinya saat tangannya disentuh Marcel. Cinta… cinta?
Sungguh cintakah ini? Begitu berulang-ulang batinnya mencoba sangsi pada
rasanya sendiri. Tapi bagaimana mungkin…? Ya Allah…, masih normalkah aku?
Hatinya kini jadi ricuh.
***
6 bulan yang
lalu…
SLTP Negeri 13
Tangerang menerima warga baru. Tepatnya kelas 3 F kedatangan murid pindahan.
Anak baru ini sudah jadi pembicaraan dari hari pertama ia masuk. Wajahnya yang
manis, senyumnya yang ramah dan sikapnya yang selalu menunjukkan keceriaan
menjadi magnet yang membuat orang-orang di sekelilingnya merasa tertarik.
Tapi ada hal
yang lebih menarik dari semua itu saat membicarakannya. Murid baru yang satu
ini sangat tomboy. Bukan tomboy buatan. JIka ia berpakaian utuh, tak ada satu
pun tanda-tanda yang bisa menunjukkan bahwa ia seorang gadis. Namanya
Marcellina Putri. Dia sendiri dan orang lain lebih suka memanggilnya Marcel.
Ya, Marcel.
Maka begitulah ia biasa disapa. Semakin mengokohkan kemaskulinannya. Gaya
bicara dan gerak-gerik yang mencerminkan seorang perempuan sama sekali tak ada
padanya. Ia tak pernah berlagak jadi sok tomboy. Tapi memang begitulah adanya
dirinya. Mungkin terbiasa hidup tanpa kehadiran seorang Ayah membentuknya jadi
pelindung sang Ibu. Waktu seolah mengikis sifat-sifat kewanitaannya.
Banyak
teman-teman yang tak cukup mengenalnya akan menduga-duga bahwa ia penyuka
sesama jenis. Dan begitulah kebanyakan gosip yang berhembus. Tapi Marcel terbiasa
cuek. Anjing menggonggong kafilah berlalu, begitulah ia menyikapinya.
Meskipun
Marcel sudah jadi bahan pembicaraan paling hot
seantero sekolah, namun Tita, gadis kuper yang super pendiam, sama sekali tidak
tahu menahu soal itu. Hingga dua bulan setelahnya, saat ia tengah jenuh dengan
suasana kelas. Saat akhirnya ia melewati jam istirahat di halaman depan
kelasnya. Saat itulah kali pertama ia melihat Marcel.
Dan sialnya, stupid Cupid yang tidak bertanggungjawab
meluncurkan busur panahnya tepat di hati Tita. Tunggu. Tita jatuh cinta pada
Marcellina Putri? Bukan. Tita jatuh cinta pada pandangan pertama pada Marcel.
Karena saat itu untuk pertama kalinya Tita melihat Marcel.
Dan takdir
telah menentukan, untuk pertama kalinya Tita melihat Marcel hanya pada bagian
atas tubuhnya saja. Karena bagian bawah tubuh Marcel yang sesungguhnya memakai
rok seperti siswi lainnya terhalang oleh meja. Maka dalam benak Tita, ia jatuh
cinta pada seorang cowok bernama Marcel.
Dan walaupun
keesokan harinya Tita seperti dihantam pada kenyataan bahwa Marcel memakai rok
sama sepertinya, ia tetap menyukai Marcel. Entah kenapa. Rasa suka itu bahkan
bergulir menjadi rasa sayang. Membuat ia mempertanyakan kenormalannya sendiri.
Membuat ia bergidik ngeri kalau-kalau ia ternyata memang punya kecenderungan
seksual yang menyimpang!
***
7 tahun
kemudian….
Akhirnya
sidang skripsi yang menegangkan dan melelahkan itu mampu dilewatinya dengan
baik. Selanjutnya tinggal mengurus masalah administrasi dan mendaftarkan diri
sebagai peserta wisuda tahun ini. Hah…, lega…! Batin Tita bersorak riang.
Hari-hari santai untuk beberapa bulan ke depan sudah terbayang di depan mata.
“Yah…,
waktunya istirahat hati dan otak dulu deh. Sebelum akhirnya bertempur lagi.
Cari nafkah sendiri dong…, masa’ mo minta mulu sama ortu!” ceracaunya pada diri
sendiri.
Hari-hari
penuh leha-leha kebanyakan diisinya dengan nonton acara TV. Tapi Tita tetap
anti sama sinetron. Biasanya yang ditongkronginnya adalah berita, talkshow,
serial drama asia, and… akhir-akhir
ini… infotainment.
Sebenarnya,
sih, infotainment hanya tontonan yang sudi ia lihat jika benar-benar tidak ada
acara Tv yang cukup enak untuk ditonton, sedangkan rasa malas menenggelamkan
minatnya untuk melakukan hal lain selain duduk diam di depan layar kaca bernama
TV. Seperti siang ini. Tita tengah menonton infotainment di salah satu saluran
TV swasta, meskipun selama menonton Tita semakin punya alasan untuk memasukkan
infotainment ke dalam list Acara TV
yang Paling Nggak Penting untuk Ditonton!
Bosan menonton
infotainment, Tita baru saja akan mengganti channel,
namun urung. Ada seraut wajah yang sepertinya ia kenal muncul di layar
kaca, di acara infotainment itu. Awalnya Tita masih ragu. Sosok itu sudah
mengalami cukup banyak perubahan. Tentu saja, sudah tujuh tahun berlalu. Tapi
senyum itu, tawa riang itu…
“Gadis tomboy
yang merupakan vokalis sekaligus gitaris grup band baru yang mengusung nama The
Girls dikabarkan akan segera menikah akhir tahun ini. Marcel, begitu gadis
yang bernama lengkap Marcellina Putri ini biasa disapa. Meskipun Marcel
terkesan lebih memiliki sisi maskulin daripada feminin, namun rupanya itu tak
membuat gadis tomboy yang manis ini ragu untuk menikah di usia yang relatif
muda. Si gadis tomboy ternyata sang puteri yang akan segera disunting pangerannya,”
penjelasan yang didengar Tita dari tayangan infotainment yang dilihatnya itu
kini menghilangkan keraguannya.
Ada perasaan
tak percaya melihat Marcel di sebuah acara infotainment sebagai seorang artis. Dan ada kegembiraan mendengar
Marcel telah menemukan pangerannya dan akan segera menikah. Hm.., pastilah
dugaan orang-orang yang pernah menyangka Marcel seorang lesbi sekarang telah
terpatahkan! Batin Tita bersorak riang.
Ya, tujuh
tahun telah berlalu. Dan dalam kurun waktu itu, hanya ada seorang perempuan yang
membuat Tita jatuh cinta; Marcellina Putri. Tujuh tahun yang bergulir mengukir
nama-nama cinta di hatinya. Hanya jatuh cinta yang tak pernah berlanjut pada
kisah cinta. Namun pemilik nama-nama yang mengukir cinta di hatinya itu,
syukurnya, semuanya pria tulen. Membuktikan bahwa Tita tidak memiliki
kecenderungan seksual pada sesame jenis.
Tita tersenyum
mengenang semua itu. Tujuh tahun telah membuatnya mengerti, rasa suka dan
sayang yang ia punya untuk Marcel adalah tulus adanya. Toh, beberapa bulan terakhir
sebelum kelulusan SMP pun Tita sudah menyadari bahwa Marcel adalah seseorang
yang begitu ingin ia jadikan sahabat. Bukan kekasih. Maka cinta yang Tita punya
untuk Marcel, bukanlah cinta yang terlarang. Meskipun hingga mereka lulus Tita
dan Marcel tak pernah dekat sebagai seorang sahabat.
Namun kenangan
tentang Marcel telah mengkristal dalam ruang hati Tita. Walaupun tiga tahun
yang lalu saat reuni SMP, Marcel sudah lupa tentang Tita. Pelukan Tita disambut
Marcel dengan hangat, meskipun Marcel jujur telah lupa pada seseorang bernama
Tita. Tita tetap tersenyum. Ia tak pernah berharap lebih. Kenangan di SMP dulu
sudah cukup baginya.
-Fin-
**Untuk sebuah kenangan; si tomboy M yang manis.
Kenangan yang manis akan tetap manis, meski hanya satu orang yang dapat
mengenangnya.
(Catatan: Dikirim ke majalah STORY tertanggal 4
November 2010 dengan subjek CERPEN; BUKAN CINTA TERLARANG, dan dikirim ulang
dengan ijin dari mba Reni Erina selaku PemRednya, setelah mengikuti pelatihan
menulisnya di Rumah Pena. Aku kirim dengan subjek Pelatihan 9 Januari @Rumah Pena, tertanggal 7 Februari
2011. Tapi tidak ada kabar akan diterbitkan. Lagi-lagi cerpen gagal masuk majalah, tapi masih layak dibaca, kan? ^_~)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar